Soal Konflik Suriah, Putin: AS Harus Tepati Janji

552
Ilustrasi

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Presiden Rusia Vladimir Putin, Sabtu, berharap Amerika Serikat (AS) memenuhi janjinya mengenai Suriah dan Ia meyakini bahwa gencatan senjata di negara bergolak merupakan cita-cita bersama Moskow dan Washington.

Jumat, AS dan Rusia bersikap memiliki keinginan perpanjang gencatan senjata di Suriah selama empat hari, tempat mereka saling mendukung, walaupun kesepakatan semakin menghilang serta meningkatnya jumlah kekerasan yang terjadi dan gagalnya pemberian bantuan.

Ditambah Sejarah perang dingin antara AS dan Rusia, hal tersebut membuat sulit dalam melakukan kerja sama.

Presiden Bashar Al Assad yang di dukung oleh Moskow (Rusia), sedangkan Washington (AS) mendukung kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan pemerintahan Suriah.

“Presiden Bashar Al Assad yang di dukung oleh Moskow (Rusia), sedangkan Washington (AS) mendukung kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan pemerintahan Suriah.”

“Mitra kami (AS) menuntut keterbukaan, namun mereka justru mengabaikan tuntutan itu,” ucap Putin kepada wartawan ketika berkunjung ke Bishkek, Ibu Kota Kyrgitan, untuk menghadiri pertemuan dengan pemimpin-pemimpin bekas negara-negara Uni Soviet.

“Hal ini menyebabkan kesulitan mereka (AS) dalam menghadapi…bahwa mereka masih belum bisa memisahkan bagian aman dari oposisi (Suriah) dengan semikriminal…namun kami lebih banyak bersikap positif daripada negatif dan berharap janji, yang diucapkan (oleh AS)…akan segera ditepati,” tegas Putin.

Sekitar lima juta jiwa warga negara Suriah melarikan diri dari negaranya dan sekitar 6,5 juta mengungsi di negaranya selama konflik yang terus berlangsung sudah lebih dari lima tahun itu.

Selain itu Suriah pun berkontribusi kepada 65,3 juta orang yang terusir dari negaranya tahun lalu.

Lebih lanjut, Putin pun berkomentar hal Pemilihan Presiden AS bulan November mendatang bahwa siapa saja yang ramah terhadap Rusia ( Moskow) pasti akan didukung.

Sementara Donald Trump yang merupakan calon Presiden AS mengaku mengagumi sesosok Putin. Hal itersebut mengundang spekulasi kemungkinkan mencairnya hubungan antara Moskow dan Washington.

Sabtu, pembantu di Kremlin, Yuri Ushakov, menyatakan Putin akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Peru pada November mendatang.

Tambahnya, bahwa Presiden Barack Obama juga diperkirakan akan hadir di pertemuan tersebut. (NC)

Komentar