Teknologi Informasi di Tengah Pusaran Pandemi Virus Corona

805

Jakarta,- Oleh: Nur Cahyono, Ketua Umum Badan Pengelola Latihan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (BPL PB HMI) Periode 2018-2020, Mahasiswa Program Magister Ilmu Agama Islam Universitas Paramadina

Saat ini dunia tengah dilanda ancaman serius dengan meluasnya wabah pandemi virus corona atau Coronavirus Disease (Covid-19) yang telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Orang yang terinfeksi Covid-19 sebanyak 1.217.724 dan menyebabkan angka kematian 65.832 jiwa. Sementara di Indonesia, orang yang terpapar Covid-19 itu sebanyak 2.273 orang dan menyebabkan 198 kematian, Minggu, 05 April 2020 (https://www.worldometers.info/coronavirus). Akibat dari Covid-19 itu tidak hanya menyangkut kesehatan manusia, sektor lainnya seperti ekonomi, sosial, dan pendidikan pun terkena imbasnya. Menyikapi hal ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Bogor, pada Minggu, 15 Maret 2020, menyampaikan beberapa poin mulai dari langkah-langkah yang harus dilakukan Kementerian Kesehatan, status daerah, anggaran, ekonomi, hingga arahan untuk bekerja, sekolah, dan beribadah dari rumah.

Berikut bagian pidato Presiden Jokowi: “Membuat kebijakan tentang proses belajar dari rumah bagi pelajar dan mahasiswa. Membuat kebijakan tentang sebagian ASN bisa bekerja di rumah dengan menggunakan interaksi online, dengan tetap mengutamakan pelayanan yang prima kepada masyaraka. Menunda kegiatan-kegiatan yang melibatkan peserta banyak orang. Meningkatkan pelayanan pengetesan infeksi Covid-19 dan pengobatan secara maksimal, dengan memanfaatkan kemampuan rumah sakit daerah, dan bekerja sama dengan rumah sakit swasta, serta lembaga riset dan pendidikan tinggi, yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan. Dengan kondisi ini, saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah. Inilah saatnya bekerja bersama-sama, saling tolong menolong, dan bersatu padu, gotong royong, kita ingin ini menjadi sebuah gerakan masyarakat agar masalah Covid-19 ini bisa tertangani dengan maksimal.”

Dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSSB maksudnya melarang pergerakan (mobilitas) atau aktivitas orang dari satu wilayah ke wilayah lain. Selain itu hal yang tidak boleh dilakukan selama PSBB yakni, pembatasan kegiatan keagamaan, sekolah dan kerja diliburkan, berkumpul di tempat umum, menggelar resepsi pernikahan, dan pembatasan jam malam. Sebagai makhluk sosial, menerapkan kebijakan itu dalam kehidupan sehari-hari perlu beradaptasi. Menurut Lewis dalam (Dadang Supardan, Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan Struktural) mengatakan sosial adalah sesuatu yang dicapai, dihasilkan dan ditetapkan dalam interaksi sehari-hari antara warga negara dan pemerintahannya. Manusia tak bisa hidup sendiri. Bahkan untuk urusan sekecil apapun, manusia membutuhkan orang lain untuk membantunya. Namun, seiring berkembangnya teknologi informasi, kini manusia bisa lebih fleksibel, berinteraksi lebih cepat, efektif dan efisien untuk bersosial.

Perkembangan teknologi informasi tidak hanya memudahkan kita dari segi aspek sosial saja. Dunia pendidikan misalnya, dahulu siswa untuk mengikuti proses pembelajaran itu dengan cara hadir ke sekolah, mendengarkan penjelasan materi dari guru. Mahasiswa pun sama, kehadiran saat jam kuliah untuk mendengarkan penjelasan dari dosen menjadi prioritas dalam penilaian proses pembelajaran. Kini dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, siswa untuk mengikuti pembelajaran tidak mesti hadir ke sekolah, guru bisa menyampaikan materi lewat media online. Begitupun dengan mahasiswa, saat penentuan layak tidaknya lulus sarjana, magister atau doktor beberapa perguruan tinggi sudah memakai pembelajaran jarak jauh (pembelajaran daring). Mereka cukup memakai sarana media online, mereka mempresentasikan karya ilmiah, berdialog dengan dosen pengujinya, lalu dinilai “Anda layak untuk lulus”.

Dalam aktifitas perkaderan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pengembangan teknologi dan informasi masih jauh tertinggal, seperti diskusi dan kajian yang kerap dilakukan Komisariat sampai tingkatan Pengurus Besar belum mencerminkan kalau kita melek teknologi informasi. Hasilnya setiap diskusi dan kajian yang diadakan HMI hanya segelintir orang saja yang hadir. Pelatihan formal Latihan Kader (LK) HMI pun sama. Pernah pada beberapa kesempatan Saya diundang sebagai narasumber, namun Saya tidak bisa hadir ke acara tersebut. Dengan tidak hadirnya Saya, bukan berarti tidak bisa menyampaikan materi. Tapi Saya minta pakai sarana media online. Saya akan buat tulisannya, Saya akan mempresentasikannya, Saya rekam lalu diupload ke youtube. Youtube itu dihadirkan ke peserta pelatihan. Jika ada tanya jawab bisa pakai video call, atau diambil alih oleh Master of Training (MOT) yang bertugas.

Tetapi dengan adanya Covid-19, akhir-akhir ini diskusi dan kajian yang diselenggarakan HMI memakai sarana teknologi informasi yakni media online. Saya membayangkan jika setiap diskusi dan kajian kita upload ke media sosial, setiap pelatihan HMI kita upload ke media sosial, dan bayangkan jika narasumber dari HMI kita upload juga ke media sosial? Saya meyakini kita bisa menularkan pemikiran, gagasan, semangat KeIslaman dan KeIndonesiaan tidak hanya ke kalangan keluarga besar HMI, bahkan bisa ke seluruh masyarakat Indonesia dan juga dunia. (RR)

Komentar