Suropati Syndicate Gelar Simposium Peneliti Jokowi Jilid Ketiga

39

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Lembaga Suropati Syndicate menyelenggarakan Simposium Peneliti Jokowi yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya diselenggarakan di JS Luwansa Hotel dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang keduanya di Jakarta. Acara sempat ada rencana dibatalkan dikarenakan iklim politik nasional yang dinilai cenderung panas di Teater Utan Kayu, Jakarta pada hari Kamis (19/9). 

Fokus kegiatan Simposium Peneliti Jokowi ketiga ini bertujuan pada tema “Indonesia Pasca-Jawa”. Menurut inisiator kegiatan Simposium Peneliti Jokowi, Arief Rosyid Hasan, hal ini sesuai dengan karakter kekuatan Jokowi yang telah berhasil mengubah cara pandang kekuasaan yang sebelumnya selalu Jawa-Sentris menjadi Indonesia-Sentris.

“Dibawah kepemimpinan pak Jokowi kita melihat adanya pergeseran karakter kekuasaan yang selalu jawa-sentris menjadi Indonesia-Sentris. Gaya kepEmimpinan ini melampaui pemimpin-pemimpin negara kita sebelumnya” – Arief Rosyid Hasan.

Dijelaskan oleh Arief bahwa Presiden Jokowi adalah sosok Jawa yang berhasil keluar dari konsepsi kekuasaan Jawa yang selama ini diyakini oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Konsepsi Jawa memahami kekuasaan sebagai sesuatu yang sakral sehingga harus memposisikan diri berada diatas menara gading yang berjarak dengan rakyatnya.

“Jokowi bukanlah representasi kekuasaan adikodrati. Jokowi tidak lahir dari konsep tersebut. Dia menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyatnya. Inilah gaya kepemimpinan politik baru dari Jokowi yang kita rasakan.” ujar Arief.

Lanjutnya, perspektif Indonesia-sentris yang dipraktikkan oleh Jokowi inilah yang menurutnya menjadi serangkaian fenomena kenegaraan yang dimiliki oleh sosok Jokowi.

“Tidak Jarang kita melihat jokowi menggunakan pakaian adat dari daerah-daerah di luar pulau jawa di berbagai acara resmi. Begitupun acara-acara keagamaan yang ia lakukan di luar jawa. Hal ini memberikan kesejukan kepada keanekaragaman indonesia.

Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber diantaranya yaitu Fachry Ali (Pengamat Politik LIPI), Manuel Kaisiepo (Mantan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia Kabinet Gotong Royong), Aris Arif Mundayat (Akademisi UGM/UNHAN), Asep Salahudin (Ketua Lakpesdam NU), dan dimoderatori oleh Nezar Patria (Pimred The Jakarta Post). (RGW)

Komentar