Puasa dan Kesadaran Kemanusiaan

68
Nur Cahyono, Ketum BPL PB HMI

Jakarta,- Oleh: Nur Cahyono, Ketua Umum Badan Pengelola Latihan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (BPL PB HMI) Periode 2018-2020, dan Mahasiswa Program Magister Ilmu Agama Islam Universitas Paramadina.

Bagi umat Islam, kehadiran bulan Ramadhan barangkali meninggalkan kesan pada diri seorang Muslim. Biasanya seseorang rindu dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh rahmat. Karena Ramadhan merupakan sarana latihan dan pendidikan agar seseorang selalu melangkah menuju ke arah kebaikan dan kebenaran. Salah satu ibadat wajib di bulan Ramadhan yaitu puasa. Ibadat puasa bertujuan agar kita menjadi orang yang bertakwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al-Baqarah 2:183).

Secara bahasa, puasa (shaum) adalah menahan diri. Sedangkan secara istilah, puasa yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa yang dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Artinya secara fiqih, seseorang dikatakan berpuasa apabila mampu menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, dan tidak melakukan sesuatu yang dapat membatalkannya.

Tentunya setiap ibadat dalam Islam, baik puasa atau ibadat lain, di dalamnya mengandung hubungan vertikal dan horizontal. Hubungan vertikal yaitu hubungan ubudiyah kita kepada Allah (hablumminallah), sedangkan hubungan horizontal adalah hubungan muamalah kita kepada sesama manusia (hablumminannas).

Setiap orang bisa saja melakukan ibadat puasa. Dia sanggup mematuhi seluruh ketentuan fiqih, tetapi dia sering tidak sanggup mewujudkan seluruh pesan moral ibadat puasa itu. Misalnya, ditengah kesenjangan sosial yang semakin kompleks, barangkali di sekitar kita kerap menemukan orang yang berpuasa tapi sering menggunjing temannya. Melihat orang yang tidak bisa makan tapi enggan untuk membantunya. Banyak orang yang di PHK akibat Covid-19, tapi tidak memedulikannya. Perbuatan seperti itu membuat puasa kita jadi tidak bermakna. Artinya tidak memiliki dampak positif bagi sesama manusia. Rasulullah Saw bersabda, “Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga,” (HR: Ibnu Majjah).

Dalam sebuah hadis diceritakan, bahwa pada bulan Ramadhan ada seorang perempuan sedang mencaci-maki pembantunya. Ketika Rasul mengetahui kejadian tersebut, beliau menyuruh seseorang untuk membawa makanan dan memanggil perempuan itu. Kemudian Rasul bersabda, “Makanlah makanan ini.” Perempuan itu menjawab, “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.” Rasul bersabda lagi, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Pernyataan Rasul di atas bila dilihat saksama mengandung pesan moral dari puasa. Artinya dalam menjalankan puasa, kita tidak boleh mengucapkan kata-kata kasar dan menyakitkan hati orang lain. Selain itu, kita juga mampu mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia.

Puasa memiliki tujuan agar kita bertakwa kepada Allah Swt. Menurut Nurcholish Madjid, sikap takwa lahir dari adanya kesadaran moral yang transendental. Artinya manusia yang bertakwa adalah manusia yang memiliki kepekaan moral yang teramat tajam untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu perbuatan. Dia memiliki mata batin yang menembus jauh untuk melihat yang baik itu baik, dan yang buruk itu buruk. Dengan demikian tingkah lakunya sehari-hari selalu mencerminkan perilaku mulia (akhlak al-karimah) dimana Tuhan selalu hadir dalam kesadaran prilaku dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang menjadikan Allah SWT marah dan murka.

Dari pernyataan Nurcholish Madjid tersebut, yang perlu disadari yakni kesadaran moral untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar. Sehingga nantinya dalam tingkah laku sehari-hari selalu mencerminkan perilaku mulia (akhlak al-karimah). Dan itu sesuai dengan misi Rasulullah di muka bumi yaitu untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Selain puasa, pada bulan Ramadhan diwajibkan seorang Muslim untuk membayar zakat fitrah. Menurut Nurcholish Madjid, zakat fitrah merupakan kewajiban pribadi berdasarkan kesucian asalnya, namun memiliki konsekuensi sosial yang sangat langsung dan jelas. Setiap zakat atau “sedekah” (shadaqah, secara etimologis berarti “tindakan kebenaran”) pertama-tama dan terutama diperuntukkan bagi golongan fakir miskin serta mereka yang berada dalam kesulitan hidup seperti al-riqab (mereka yang terbelenggu, yakni, para budak; dalam istilah modern dapat berarti mereka yang terkungkung oleh “kemiskinan struktural”) dan algharimin (mereka yang terbeban berat utang), serta ibn sabil (orang yang terlantar dalam perjalanan), demi usaha ikut meringankan beban hidup mereka. Sasaran zakat yang lain pun masih berkaitan dengan kriteria bahwa zakat adalah untuk kepentingan umum atau sosial, seperti sasaran amil atau panitia zakat sendiri, kaum mu’allaf, dan fisabilillah(jalan Allah), kepentingan masyarakat dalam arti yang seluas-luasnya.

Maka dari itu, ibadat puasa di bulan Ramadhan mestinya menjadikan diri kita untuk selalu melangkah menuju arah kebaikan dan kebenaran (takwa). Menjadikan kita peduli dalam membantu dan menolong antarsesama, peduli akan pentingnya sebuah tali persaudaraan umat manusia, dan membawa kita pada kesucian. (TYL)

Komentar