Zulhasan, Thariq bin Ziyad, dan Point of No Return

Oleh: Dhimam Abror Djuraid (Wartawan Senior)

359
Ilustrasi Zulkifli Hasan dan Thariq Bin Ziyad

JAKARTA, Fokusutama.com – Pernyataan Ketua MPRI RI, Zulkifli Hasan, mengenai fenomena LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) menjadi sebuah titik yang tidak mungkin berbalik (point of no return) dalam politik Indonesia. Polarisasi antara koalisi keumatan yang religius, versus koalisi pro-pemerintah–yang nasionalis dan mengklaim diri sebagai pro-kebhinekaan–kembali berhadap-hadapan dalam garis demarkasi yang tegas.

Persaingan yang sangat keras dalam kontestasi pilkada DKI 2016 telah memunculkan luka yang dalam bagi kelompok yang kalah. Luka begitu dalam sampai sulit untuk move on meskipun sudah hampir setahun berlalu. Hal ini menimbulkan praduga bahwa polarisasi itu akan menjadi permanen dan akan terus terbawa sampai kontestasi pemilihan presiden 2019.

“Polarisasi antara kekuatan keumatan yang religius dan kekuatan nasionalis seolah meleleh dengan cepat karena alasan-alasan pragmatis. Alasan-alasan ideologis yang sebelumnya seolah-olah tak bisa lagi ditawar, ternyata lumer dengan cepat”.

Datanglah tahun politik 2018. Ternyata, partai-partai yang bersaing begitu keras di pilkada DKI ternyata dengan santai dan enteng saling berkoalisi di sejumlah daerah dan wilayah. Polarisasi antara kekuatan keumatan yang religius dan kekuatan nasionalis seolah meleleh dengan cepat karena alasan-alasan pragmatis. Alasan-alasan ideologis yang sebelumnya seolah-olah tak bisa lagi ditawar, ternyata lumer dengan cepat. Partai-partai, yang sebelumnya bersaing, saling berkoalisi mendukung dan mengusung calon-calon kepala daerah di banyak tempat di Indonesia. Partai Amanat Nasional (PAN) yang mempunyai hubungan cat and mouse (kucing dan tikus) dengan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) bergandengan mesra di Jawa Tengah. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bersetru ideologis dengan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) tak malu-malu berada dalam satu gerbong di Jawa Timur.

Muncullah fenomena ‘’cross-cutting political coalition’’ atau koalisi lintas-batas politik yang mengindikasikan aroma pragmatisme yang kuat. Di beberapa wilayah itu partai-partai tidak mempunyai kandidat yang cukup kuat untuk dipertarungkan, sehingga jalan pintas pragmatis harus diambil untuk berkoalisi dengan partai yang tidak seideologis. Koalisi lintas batas ini diberi aplaus sebagai indikasi bahwa persingan demarkatif itu sudah terhapus.

Tetapi ternyata tidak demikian. Api dalam sekam tetap membara tak tampak dari permukaan. Rumput kering gersang itu masih luas terhampar. Minyak itu masih disana. Ketika muncul kilatan api, rumput kering itu pun terbakar, dan minyak itu seolah tersiram api. Kebakaran pun tak terhindarkan.

“Pernyataan Zulhasan, sapaan Zulkifli Hasan, mengenai fenomena LGBT dan tarik-menarik di parlemen membahas legislasi LGBT, seperti pemantik api yang jatuh di padang rumput kering,”

Pernyataan Zulhasan, sapaan Zulkifli Hasan, mengenai fenomena LGBT dan tarik-menarik di parlemen membahas legislasi LGBT, seperti pemantik api yang jatuh di padang rumput kering, seperti api yang memantik minyak, panas dalam sekam langsung membara. Tidak ada tudingan langsung yang diarahkan Zulhasan kepada partai-partai tertentu. Tetapi, tiba-tiba banyak yang salting alias salah tingkah dan baper alias terbawa perasaaan, dan kemudian serta-merta menegaskan partainya bukanlah partai LGBT. Serangan terhadap Zulhasan datang bergelombang. Ia dituding caper, cari perhatian, dengan mengekploitasi masalah sensitif.

Bukan sekali ini saja Zulhasan meneriakkan kerisauannya akan fenomena gunung es LGBT di Indonesia. Dalam berbagai kesempatan ia tak pernah lelah menyuarakan kegalauannya. Tapi, suara Zulhasan seperti teriakan di kegelapan, a cry in the dark, yang nyaris tak terdengar.

Tapi, akhirnya momentum itu muncul juga. Teriakan Zulhasan terdengar. Dari sayup sekarang menjadi lantang, dan bahkan memekakkan telinga. Semua ramai-ramai menjaga jarak, ramai-ramai mungkir, ramai-ramai ikut naik gelombang, dan bahkan Ketua DPR Bambang Soesatyo tak takut naik gelombang ombak paling tinggi dengan mempertaruhkan jabatannya jika legislasi mengenai LGBT sampai lolos dari parlamen.

Seperti membuka kotak pandora, sekali terbuka akan keluarlah semua dan tidak akan pernah kembali lagi. Pro dan kontra meruyak kembali. Perdebatan di media konvensional dan media sosial pecah lagi. Polarisasi lama antara kekuatan religius yang dianggap konservatif dan kelompok liberal pecah lagi. Zulhasan berada di tengah pusaran kontroversi ini. Ia menjadi figur yang dicaci, tapi juga disanjung dan dipuji. Ia membuka tabir yang selama in tersembunyi dan tak banyak disentuh orang. Sekarang, tabir itu sudah terungkap, dan Zulhasan yang melakukannya. Ia harus menerima konsekuensinya diposisikan sebagai tokoh di garda terdepan perjuangan melawan LGBT. Palagan besar membentang di depannya. Di dalam negeri Zulhasan mau tidak mau sekarang menjadi salah satu figur yang berada di seberang kekuasaan. Meski sebelah kakinya masih berpijak di pemerintahan, tapi seutuh badannya berada di seberang garis kekuasaan. Di front internasional Zulhasan harus menghadapi kekuatan besar lobi pro-LGBT yang didukung oleh kekuatan kapital dan perusahaan multi-nasional yang masif. Sungguh sebuah tantangan yang tak main-main.

‘’Tidak ada jalan untuk lari. Laut di belakang kalian, musuh di depan kalian. Tidak ada yang bisa kalian lakukan kecuali berperang dengan sungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran’’.

Persaingan pilkada DKI banyak disebut-sebut sebagai miniatur pertempuran yang sesungguhnya pada pemilihan presiden 2019. persaingan juga dperkirakan tidak akan jauh dari persaingan pada pilpres 2014. Kandidat yang muncul juga tidak akan banyak berubah dari kandidat pada 2014. Pertanyaan justru muncul mengenai siapa yang bakal menjadi pendamping, running mate, para kandidat itu. Menurut para pundit, siapapun kandidatnya, pendampingnya akan muncul dari pendulum kanan kekuatan politik keumatan. Beberapa nama bermunculan. Zulhasan salah satunya. Ia, oleh partainya sudah dideklarasikan sebagai kandidat presiden atau wakil presiden pada pilpres 2019. Tetapi, banyak hal yang membuat Zulhasan harus berhati-hati meniti langkah. Sampai kemudian muncullah momentum fenomena LGBT ini. Dan Zulhasan berada persis di tengah pusaran ombak kontroversi itu. Tidak ada pilihan lain. The tide for no one, ombak tidak menunggu siapa pun. Zulhasan harus siap mengarunginya. Tidak ada lagi jalan untuk berbalik. Sekarang atau tidak sama sekali.

Zulhasan sekarang ibarat Thariq bin Ziyad yang mendarat di Gibraltar pada abad ke-8 untuk menaklukkan Andalusia, Spanyol. Ia membakar semua kapalnya. Di depan anak buah ia berteriak lantang, ‘’Tidak ada jalan untuk lari. Laut di belakang kalian, musuh di depan kalian. Tidak ada yang bisa kalian lakukan kecuali berperang dengan sungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran’’.

BAGIKAN

Komentar