Perjalanan Intelektual di Dalam Islam

181

Oleh: Nur Cahyono, Ketua Umum Badan Pengelola Latihan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (BPL PB HMI) Periode 2018-2020, dan Mahasiswa Program Magister Ilmu Agama Islam Universitas Paramadina

Perjalanan Filsafat di Dalam Islam

Berbicara filsafat di kalangan Muslim, tentunya sudah tidak asing lagi. Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya (Sains dan Peradaban di Dalam Islam), filsafat Islam dimulai pada abad ke-3 H/ke-9 M, dengan penerjemahan teks filsafat Grika ke dalam bahasa Arab. Filosof Muslim pertama yakni al-Kindi. Ia mengenal sekali pengajaran utama filsafat Grika dan malah menyuruh buatkan terjemahan versi ringkas Enneads. Dialah yang memprakarsai proses perumusan vokabuler teknis filsafat dalam bahasa Arab dan pemikiran kembali filsafat Grika dalam sorotan ajaran-ajaran Islam. Dalam kedua hal ini ia diikuti oleh al-Farabi, yang membuat dasar filsafat Peripatetik menjadi kukuh dalam Islam. Para filosof aliran ini erat hubungannya dengan kaum Neoplatonis Iskandariah dan Athena, dan komentator-komentator Aristoteles, dan memandang filsafat Aristoteles melalui kacamata Neoplatonis. Lebih jauh, terlihat unsur-unsur Neopythagoras pada al-Kindi, doktrin politik Syi’ah pada al-Farabi dan ide inspirasi Syi’ah pada beberapa tulisan Ibn Sina.

Dalam aliran Peripatetik tak bisa dilepaskan dari peran Ibn Sina. Menurut Nasr, Ibn Sina mengarah ke suatu filsafat yang berdasarkan penggunaan kemampuan logika dan bertumpu hakikatnya pada metoda syllogistis. Aspek rasionalistis aliran ini mencapai puncaknya pada Ibn Rusyd, yang merupakan tokoh paling berpaham Aristoteles di kalangan Peripatetik Muslim dan yang menolak, sebagai aspek eksplisit filsafat, unsur-unsur Neoplatonik dan Muslim yang merasuk ke dalam paham duniawi Peripatetik Timur, seperti Ibn Sina (Nasr: Sains dan Peradaban di Dalam Islam).

Setelah itu, pada abad ke-6 H/ke-12 M, Suhrawardi mendirikan filsafat aliran Iluminasionis (isyraqi). Filsafat itu berbeda sekali dengan aliran Peripatetik (masysya’i). Menurut Nasr, kaum Peripatetik bertumpu kuat sekali pada metoda syllogis Aristoteles dan berupaya mencapai kebenaran dengan cara argumen berdasarkan nalar, sedangkan kaum Iluminasionis yang mengambil doktrinnya dari ajaran Plato dan Parsi kuno maupun wahyu Islam sendiri, memandang intuisi intelektual dan iluminasi (penerangan) sebagai metoda dasar yang harus diturut secara bersamaan dengan penggunaan nalar.

Dalam perjalanan intelektual di dalam Islam, pada beberapa abad filsafat terbukti memiliki peran penting bagi kemajuan perabadan Islam, salah satunya dalam upaya pengembangan disiplin-disiplin keilmuan Islam. Namun, pada abad ke-12 M, studi filsafat di dalam Islam juga mengalami pasang-surut. Hal itu terjadi adanya kecurigaan di kalangan kaum Muslim ortodoks terhadap upaya para filosof Muslim untuk mengintegrasikan data pewahyuan al-Qur‘an dengan struktur filsafat yang dikembangkan di Yunani menjadi salah satu faktor penting redupnya sinar filsafat di sebagian besar kawasan wilayah Islam. Serangan itu datang dari al-Ghazzali dengan menulis Tahafut al-Falasifah (kerancuan para filsuf), sebuah kitab yang mengulas ke(tidak)selarasan konsep-konsep filsafat (khususnya aliran Ibn Sina) dengan doktrin Islam. Seperti diketahui, belakangan, Ibnu Rusyd yang muncul sekitar 15 tahun sepeninggal al-Ghazzali berupaya mematahkan serangan Hujjat al-Islam ini dengan menulis karya filosofis penting, Tahafut at-Tahafut (Kerancuan kitab Kerancuan).

Meskipun serangan itu datang, khususnya dari al-Ghazzali, hal itu tidak sampai mematikan tradisi studi filsafat di dunia Islam, khususnya Sunni. Namun, serangan tersebut memberikan dampak merugikan dalam pengembangan tradisi filsafat di Dunia Islam selanjutnya. Salah satu dampak serangan ini adalah berkembangnya theologi Asy’ariyyah yang determenistik dan karena itu kurang menghargai akal dan filsafat. Sementara itu, karena ajaran-ajarannya yang populistik dan kleimnya sebagai pengikut sejati sunnah Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat, maka Asy’ariyyah dengan mudah menjadi mazhab theologis yang paling banyak diterima di hampir seluruh pelosok Dunia Islam. Kenyataan tersebut makin menyulitkan upaya untuk menumbuhkan dan mempopulerkan kembali tradisi studi dan pengajaran filsafat di dunia Islam. Hal ini terbukti, misalnya, dengan kurang berhasilanya Ibn Rusyd membela dan menyalakan kembali semangat berpikir filosofis di dunia Islam yang dia gemakan lewat Tahafut at-Tahafut.

Tapi haruslah dibedakan antara tanggapan kaum Sunni dengan kaum Syi’ah terhadap filsafat. Kalangan Sunni menolak hampir seluruhnya filsafat setelah Ibn Rusyd, kecuali logika dan pengaruh filsafat yang berkelanjutan dalam metoda argumentasi dan juga beberapa paham kosmologis yang masih ada dalam formulasi theologi dan doktrin Sufi tertentu. Sementara di kalangan Syi’ah, filsafat aliran Peripatetik dan Iluminasionis terus diajarkan, dan merupakan tradisi yang hidup sepanjang zaman di sekolah-sekolah agama Syi’ah; beberapa tokoh besar filsafat Islam, seperti Mulla Shadra, tokoh yang sezaman dengan Descartes dan Leibniz, muncul lama setelah masa yang biasa dianggap sebagai “tahap produktif” filsafat Islam (Nasr: Sains dan Peradaban di Dalam Islam).

Dengan demikian, sejarah intelektual dalam Islam telah menjadi saksi bagi peranan penting filsafat. Filsafat telah menjadi aktivitas keseharian manusia sepanjang sejarah, walau seringkali tidak disadari atau dinamakan seperti itu. Itu artinya, hampir semua kegiatan berfikir dan merenung yang merupakan potensi dan karakter khas manusia (al-insan hayawan al-natiq) dan membedakannya antara binatang identik dengan berfilsafat.

Wahyu: Semangat Keilmuan di Kalangan Muslim

Perjalanan intelektual di kalangan Muslim tidak terlepas dari ajaran Islam itu sendiri. Islam menekankan kepada manusia betapa pentingnya seorang yang berilmu. “Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (QS. al-Mujadilah: 11). Dalam ajaran Islam pun sering ditemukan ayat dan hadis yang erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Menurut Husain Heriyanto dalam bukunya (Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam), sumber inspirasi yang menjadi penggerak dan elan vital luar biasa bagi para sarjana Muslim dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan yang mencerahkan peradaban dunia dapat dilacak pada sumber ajaran Islam itu sendiri, yaitu al-Qur’an. Kegiatan ilmiah yang berhubungan dengan wahyu seperti tafsir al-Qur’an merupakan salah satu aktivitas intelektual utama kaum Muslim sejak awal (Heriyanto: Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam).

Lebih lanjut, Heriyanto menjelaskan, posisi al-Qur’an sebagai kalam ilahi yang berbentuk teks ini unik karena memiliki dua dimensi sekaligus, yaitu berdimensi spiritual dan intelektual. Itu artinya, dengan membaca teksnya saja sudah merupakan ibadah, berkomunikasi dengan Allah. Selain itu, membaca juga merupakan aktivitas penting dalam dunia keilmuan. Jadi, perintah membaca al-Qur’an sebagai ibadah sesungguhnya adalah sebuah dorongan religius kepada kaum Muslim untuk mengaktifkan pendayagunaan akal pikiran guna memahami makna teks-teks al-Quran. “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Dengan demikian, ajaran Islam sangat menjunjung tinggi dalam pencarian ilmu darimanapun ia berasal. Kata Iqra dalam al-Qur’an menjadi landasan manusia dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Menurut Heriyanto, berbagai aspek mengenai pandangan dunia Islam, secara doktrinal, sains Islam ditegakkan atas dasar rasionalisme dan wahyu. Rasio dan wahyu tidak bertentangan justru bergandengan tangan. Islam menganggap rasio adalah anugerah Tuhan yang sangat penting yang membedakannnya dari hewan dan tetumbuhan. Rasio adalah pembeda manusia dengan genus (jins) lainnya.

Komentar