Obituari AR Mandji

818
Oleh Egy Massadiah
Jusuf Kalla menyingkap pelan kain yang menutup wajah almarhum Abdul Rahim Mandji. Tangan wakil presiden RI itu kemudian tengadah, kepalanya  menunduk seraya menggumamkan doa. Di sampingnya Ibu Mufidah Jusuf Kalla ikut berdoa. Pagi itu, di Depok, Jumat 13 Januari 2017 Jusuf Kalla melayat dan melepas kepergian “guru” politiknya yang berpulang pada Kamis 12 Januari 2017 pukul 18.04 dalam usia 91 tahun.
Seminggu sebelum berpulang, Jusuf Kalla masih sempat membesuknya. Di dalam ruang Critical Care Unit RS Primier Bintaro pemegang Bintang Gerilya itu sudah tak sadarkan diri. Namun saat JK menggenggam tangannya laki laki pejuang itu sempat bereaksi.
Semua keluarga yang mendampingi ikut heran. Seakan AR Mandji mengirim pesan kepada JK, bahwa saya baru akan “pulang” setelah kita bersalaman karena sudah lama tak berjumpa. Dan benar AR Mandji berpulang seminggu setelahnya di waktu petang.
Jusuf Kalla muda memang kerap berinteraksi dengan Kolonel AR Mandji  semasa almarhum aktif bertugas di berbagai jabatan politik, khususnya Sekretariat Bersama Golkar Sulawesi Selatan. Terakhir, yang tak banyak diketahui khalayak umum adalah peran AR Mandji menjelang pemilihan Ketua Umum Golkar 2004 di Bali.
AR Mandji diam diam ternyata masih menyimpan secarik surat yang menerangkan bahwa Jusuf Kalla pernah menjadi pengurus Golkar di Provinsi Sulawesi Selatan. Surat tersebut ditandatangani oleh Brigjen Azis Bustam tahun 70 an. Berbekal surat tersebut Jusuf Kalla dapat maju sebagai calon ketua umum Golkar sebagaimana yang disyaratkan panitia pemilihan ketua umum saat itu. Bahwa calon ketua umum harus pernah menjadi pengurus Golkar. Kompetisi yang berlangsung ketat tersebut kemudian mengantar JK memegang tampuk ketua umum Golkar 2004-2009.
AR Mandji lahir di Desa Bungi Kabupaten Pinrang pada tanggal 16 Juni 1926 dari pasangan Puang Mandji Daeng Timo dengan Iye Ebo. Kapten AR Mandji muda ikut bergerilya di Sulawesi Selatan sekitar tahun 40 an. Angkatan saat itu Usman Ballo, Arifin Numang, Andi Sose, Hamid Ali.
AR Mandji pernah menjabat Komandan Sektor di kota Sengkang  Wajo dan Martapura Kalimantan Selatan tahun 65. Posisi itu sekarang setingkat Dandim. Jabatan lain yang pernah diemban adalah Ketua Sekber Golkar Sul Sel 1966, Ketua DPRD Sul Sel 1968, anggota DPR RI 1977 sampai 1982 dan terakhir sebagai Manggala BP 7 tahun 1987.
Iskandar Mandji putranya kemudian mengikuti jejak politik AR Mandji. Iskandar pernah duduk sebagai anggota DPRD Kota Makassar hingga kemudian DPR RI. Dan semasa Jusuf Kalla menjabat ketua Umum Golkar Iskandar dipercaya sebagai wakil sekjen bidang OKK.
Iskandar memiliki banyak kenangan dengan ayahandanya. Iskandar kecil masih mengingat dengan baik saat saat perang gerilya dan penumpasan PKI, baik di Wajo dan juga di Martapura, ayahnya sering mengajak turut serta di medan operasi. ” Saya dimasukkan di dalam mobil. Karena badan saya kecil, saya biasanya disuruh merunduk oleh bapak kalau ada suara tembakan dari penghadang,” kenang pria yang akrab disapa Kak Is atau Andar ini.
Salah satu keteladanan yang diwariskan oleh AR Mandji adalah nilai nilai kesetiaan dalam rumah tangga.  Enam puluh tahun lebih AR Mandji menikah dengan wanita bernama Samida tak pernah sekalipun Iskandar dan adik adiknya mendengar keduanya bertengkar urusan kecemburuan akibat wanita lain.
Saya beruntung sempat berinteraksi dengan AR Mandji sekitar tahun 2006. Beliau  sedang beristirahat di salah rumah sakit di kawasan Bumi Serpong Damai. Saya pun membesuknya. Di dalam kamar seluruh anak anaknya sepakat mematikan siaran televisi, khususnya berita. Saat itu hujatan terhadap mantan Presiden Soeharto sedang panas. AR Mandji tidak bisa menerima Pak Harto dihujat dan didemo.
“Jasa Pak Harto kepada bangsa ini besar sekali. Kalau gak ada Pak Harto mungkin Indonesia sudah jadi PKI hari ini,” begitu kata AR Mandji.
“Kita matikan aja siaran televisi, bapak ndak bisa dengar demo dan hujatan kepada Pak Harto,” kisah Iskandar Mandji.
Kini, AR Mandji telah berlabuh diharibaanNya. Meninggalkan 13 anak dan 47 cucu. Dalam pelukan persada ibu pertiwi dilepas sederet keikhlasan keluarga dan handai taulan. AR Mandji pulang tepat dihari kelahirannya, Jumat sebagaimana kalender Islam.
Merah putih yang memayungi kerandanya sudah terlipat rapi. Iskandar bersama kakak dan adik adiknya menerima sang saka dari inspektur upacara. Bunga yang ditabur membasuh sekujur makam. Perlahan rintik gerimis menetes pelan di langit Kalibata. Semilir angin sore teramat sepoi melepas dentuman tembakan salvo.
Selamat jalan sang laki laki pejuang. Selamat istirahat kakek nenek Mandji.
(Jakarta 14 Januari 2017)
BAGIKAN

Komentar