Mitos Ilmu Ladunni di Pesantren

89

Oleh: Dr. Mohammad Nasih

Pengasuh Pondok Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Mlagen Rembang Jawa Tengah. Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI.

Secara konseptual, tidak ada tempat dengan desain untuk benar-benar total mempelajari ilmu melebihi pesantren. Bagaimana tidak? Desain belajarnya 24 jam, melampaui konsep belajar full day. Itu pun dilakukan dalam rentang waktu bertahun-tahun. Murid atau yang disebut santri harus menetap di sana untuk mendapatkan bimbingan dalam tidak hanya mempelajari ilmu, tetapi juga mengamalkannya.

Tentu saja hanya mereka yang memiliki tekad kuat saja yang akan bertahan tinggal di pesantren yang pada umumnya menerapkan aturan yang membuat mereka relatif terisolasi dari dunia luar. Berbagai kesenangan semu yang sebelumnya bisa didapatkan dengan bebas, lenyap ketika sudah memutuskan untuk masuk di pesantren. Karena itulah, sebagian orang menyebut pondok pesantren dengan istilah dengan konotasi positif “penjara suci”.

Untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan spirit mendapatkan ilmu, dua jalan diperkenalkan. Dua jalan itu adalah usaha (kasbi) dan tanpa usaha (wahbi). Jalan usaha adalah cara mendapatkan ilmu dengan belajar keras. Seluruh waktu harus hanya digunakan untuk membaca atau menelaah (muthaala’ah) kitab-kitab yang diajarkan. Menguasai pemahaman keislaman memang bukan perkara mudah. Al-Qur’an, hadits, dan kitab-kitab yang menguraikan keduanya hanya akan bisa dipahami apabila ada wawasan yang memadai. Dan untuk itu, caranya tentu saja harus membacanya.

Kesungguhan (hirsh), daya tahan (shabr), dan konsistensi dalam rentang waktu yang lama (thuulu zamaan) menjadi kata kunci. Namun, karena sebab tertentu, pada sebagian besar santri, kunci itu tidak kunjung fungsional untuk membuka ilmu yang diidamkan. Sementara beberapa anak kiai yang secara kasat mata justru tidak belajar, bahkan nampak sebagai anak badung dan bahkan sering diungkapkan sebagai pengganggu saat proses belajar, kemudian justru menunjukkan penguasaan ilmu yang tak kunjung dikuasai oleh para santri. Inilah yang menjadi salah satu penyebab muncul anggapan bahwa mereka mendapatkan ilmu wahbi yang berarti ilmu pemberian langsung dari Allah atau lebih dikenal dengan ilmu ladunni. Benarkan anggapan ini?

Pesantren pada umumnya merupakan lembaga pendidikan dengan kepemilikan yang bersifat individual. Dalam lingkungan pesantren, kiai ibarat raja dengan otoritas penuh. Dan karena itu, eksistensi pesantren sangat tergantung pada keberhasilan melakukan kaderisasi kepada satu atau lebih anak-anak kiai. Karena itulah, kaderisasi untuk melahirkan penerus ini menjadi sebuah kebutuhan mutlak. Sebab, jika tidak, maka pesantren akan gulung tikar. Kaderisasi yang paling intensif terjadi pada anak-anak kiai, karena intensitas kebersamaan kiai dengan anak-anaknya secara kalkulatif jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan para santri. Dalam waktu kebersamaan yang tentu saja jauh lebih panjang itu, seorang kiai bisa memberikan pendidikan yang bersifat privat kepada anak-anaknya.

Lebih dari itu, proses pendidikan kepada anak sendiri bisa dilakukan secara jauh lebih keras. Dari sini saja, sudah terdapat dua perbedaan antara mendidik santri dengan mendidik anak sendiri. Mendidik anak sendiri dilakukan secara super intensif dengan jalan privat dan juga keras. Sementara santri hanya mendapatkan pendidikan massal dan relatif tidak memungkinkan untuk memperlakukan secara keras walaupun dengan tujuan memastikan disiplin tinggi. Sebab, melakukan itu, sangat banyak risikonya. Yang banyak terjadi adalah orang tua justru menggugat. Anak kiai memiliki seluruh kesempatan yang didapatkan oleh santri, tetapi tidak sebaliknya. Ia bisa mendapatkan fasilitas privat dan jika ingin, juga bisa bergabung dalam proses pendidikan massal.

Dan lebih dari itu, anak kiai memiliki waktu yang sangat panjang dalam belajar, baik yang terprogram dengan sadar maupun tidak. Walaupun anak kiai mungkin terlihat tidak sedang mengikuti proses pendidian, tetapi ia sedang mengikutinya, karena sejak kecil, bahkan masih dalam kandungan, berada dalam lingkungan yang di dalamnya berlangsung kegiatan belajar-mengajar.

Saya memiliki dua contoh untuk mendeskripsikan hal ini. Beberapa tahun lalu, saya dan keluarga menginap di hotel Sari Kuring Salatiga. Selepas shalat di mushalla, anak pertama saya, Hokma, terkagum-kagum melihat patung besar dan bagus di lorong yang kami lewati. Hokma lahir pada 5 April 2011. Usianya saat itu belum sampai 7 tahun. Mendengar ungkapan kekagumannya, saya melontarkan pertanyaan yang sebenarnya saya maksudkan untuk mengetahui pemahamannya. “Boleh atau tidak, kita punya patung begitu?”. Dia menjawab: “Ya boleh saja, asal kita tidak menyembahnya”. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk melatih dia berpikir dengan menajamkan pertanyaan dengan pertanyaan filosofis. “Kok bisa begitu?” Tanya saya dengan ungkapan yang mudah dipahami anak-anak. Dan saya mendapatkan jawaban yang sangat mengagetkan darinya: “Bukankah Abah sendiri yang bilang begitu?”. Karena saya merasa tidak pernah mengatakan yang dia maksudkan, maka saya bertanya: “Kapan Abah bilang begitu?”. “Waktu ngajar, Abah bilang bahwa kita bilang Sunday, Monday tidak apa-apa. Sebab, kita tidak berniat untuk mengakui dewa matahari dan bulan sebagai Tuhan.” Saya benar-benar terkesiap karena ternyata anak kecil saya telah menangkap teori desakralisasi yang saya sampaikan saat kajian Tafsir Jalalayn di Rumah Perkaderan Monash Institute Semarang setiap selepas shalat shubuh dan maghrib atau Isya’.

Memang saya menjelaskan bahwa sikap menggeneralisasi segala sesuatu sebagai bid’ah yang sesat kadang berlebihan. Yang saya gunakan sebagai salah satu contoh adalah sebutan hari-hari dalam bahasa Inggris Sunday, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, dan Saturday yang awalnya sesungguhnya waktu penyembahan untuk tujuh dewa (dei), yaitu: matahari (sun), bulan (moon), tiw, wouden, thors, frig, dan saturnus. Saya menjelaskan bahwa seorang muslim tidak lantas menjadi kafir atau musyrik karena menyebut hari-hari dengan sebutan itu. Dan secara faktual tidak banyak yang mengetahui tentang asal-usul hari ini.

Ada kejadian lain, tetapi bersama anak kedua saya, Hekma, yang lahir pada 19 September 2012. Saat itu usianya juga belum genap 7 tahun. Namun, hoby membacanya membuat ibunya kewalahan membelikan buku cerita. Dalam kajian tafsir setelah shubuh di Monash Institute, kami membahas Nabi Musa dan Harun. Saat itu, Hekma sedang tiduran membaca buku ceritanya di tengah-tengah mahasantri dengan dua kakinya setengah diangkat.

Saya bertanya kepada para mahasantri mengapa Harun diangkat menjadi rasul oleh Allah? Tidak ada satu pun yang menjawab. Namun, pada saat itu, tiba-tiba Hekma mengeluarkan suara: “Saya tahu”. Saya langsung mengejar: “Apa, Mbak?”. Hekma langsung menjawab: “Karena didoakan oleh Nabi Musa”. Saya tanya, dari mana tahu jawaban itu? Katanya dari buku ensiklopedi yang dibelikan oleh ibunya.

Dua kejadian itu, menjadi pelajaran penting bahwa anak-anak yang mendapatkan fasilitas pendidikan yang baik, walaupun masih kecil, ternyata memiliki daya serap yang seringkali tak terduga. Walaupun kelihatannya mereka bermain, bahkan mengganggu proses belajar orang dewasa, mereka mendapatkan pelajaran yang bahkan tak tertangkap oleh mereka yang seharusnya benar-benar belajar. Demikian itulah anak-anak kiai. Mereka mendapatkan kesempatan belajar sejak batita dengan mendengar untaian kalimat, informasi, cerita, dan lain sebagainya yang bisa menstimulasi kemampuan intelektualnya.

Satu kekhasan pendidikan Islam adalah harus memahami bahasa Arab yang menjadi alat untuk mengakses al-Qur’an dan hadits, juga kitab-kitab rujukan yang seluruhnya berbahasa Arab. Itu pun belum cukup, karena kemampuan bahasa ini harus ditopang oleh kemampuan logika yang sangat kuat untuk memahami kaidah-kaidah yang bermacam ragam, terutama di dalam fikih, sehingga melahirkan disiplin khusus ushul fiqh. Belum lagi kebutuhan referensi berupa beragam kitab yang tentu saja dimiliki oleh kiai yang sudah bisa disebut sampai level alim (ulama’), tetapi akses ini tidak dimiliki oleh para santri.

Tak hanya sampai di sini, anak kiai memiliki kesempatan untuk melatih diri tampil di depan umum, baik karena kebutuhan mendesak atau karena by design berupa mengajar atau ceramah. Dengan kemampuan yang ada, para anak kiai memiliki kesempatan mengajar santri-santri. Dan ini sesungguhnya merupakan latihan yang sangat penting untuk membiasakan retorika yang baik sesuai dengan kebutuhan audiens.

Jika yang dihadapi adalah santri dengan kebutuhan pemahaman teks, maka retorika cukup dengan mengacu pada teks yang bersifat formal. Namun, jika yang dihadapi adalah kalangan awam yang juga membutuhkan hiburan, mereka sudah terbiasa dengan retorika yang dibumbui humor segar. Penguasaan materi akan semakin baik karena mereka memiliki kesempatan menyampaikan materi yang sama dalam waktu dan forum yang berbeda.

Walaupun sebenarnya kemampuan keilmuan yang dimiliki kalangan elite pesantren didapatkan dengan usaha keras, tetapi sebagiannya membiarkan asumsi ilmu ladunni ini hidup di kalangan ummat, karena itu bisa memperkuat kharisma dan pengaruh. Karena pandangan ini sudah sangat kuat, walaupun ada yang berusaha membongkarnya, tetapi tetap kokoh. Bahkan Gus Dur pernah menolak asumsi bahwa dia memiliki ilmu ladunni dengan mengatakan bahwa matanya sampai rusak itu disebankan oleh kegemarannya membaca sejak belia yang tak terbendung.

Jika ilmu ladunni sebagaimana konsepsi dan asumsi kalangan pesantren selama ini nyata, maka seharusnya pesantren mampu melakukan inovasi dan menjadi lokomotif pengembangan sains dan teknologi. Sebab, di dalam al-Qur’an dan hadis Nabi, banyak sekali inspirasi tentang sains dan teknologi, bukan melulu tentang ibadah dan akhirat. Kian hari, kian banyak yang dinyatakan oleh al-Qur’an dan hadits terbukti. Namun, masih tidak sedikit pula yang masih menjadi misteri. Yang perku dijadikan sebagai catatan kritis adalah inspirasi-inspirasi al-Qur’an itu justru terbukti secara positifistik oleh ilmuan-ilmuan non Islam. Sebagian kecilnya masuk Islam. Sebagiannya lagi tidak tahu bahwa yang ditemukannya itu sesungguhnya pernah dinyatakan oleh al-Qur’an belasan abad sebelumnya.

Kalangan pesantren yang memiliki khazanah perspektif tentang ilmu ladunni relatif hanya sibuk mengutip-ngutip pandangan ulama’ masa lalu yang bahkan sebagiannya sudah tidak relevan dalam konteks kekinian. Sebagai sebuah tantangan, kalangan pesantren mestinya berani membuat agenda menemukan teknologi teleportasi sebagaimana dimiliki oleh ilmuan yang hidup sezaman dengan Nabi Sulaiman yang memindahkan ‘arsy Ratu Balqis ke istana Nabi Sulaiman (QS. al-Naml: 40). Selama ini, teknologi yang bisa membuat Nabi Sulaiman bepergian ke tempat yang sangat jauh, dalam waktu hanya seperempat atau sepertiga hari sama dengan perjalanan sebulan orang yang lain (QS. Saba’: 12) lebih sering digambarkan dengan sajadah atau karpet ajaib yang diterbangkan angin.

Tidak ada yang berusaha membangun pemikiran bahwa saat itu Nabi Sulaiman sudah memiliki pesawat dengan kecepatan gerak di atas 400 KM/jam. Teknologi pesawat awalnya memang ditemukan oleh ilmuan muslim Ibn al-Firnas. Namun, pengembangan teknologi sampai level canggih sekarang ditemukan oleh para non muslim. Dan jika pun mislim, di antaranya Prof. Dr. Ing. BJ Habibibe, tetapi bukan kalangan pesantren. Padahal ia benar-benar mendapatkan yang ia sebut sendiri sebagai ilham besar saat menemukan rumus dalam dunia penerbangan. Dan tentu saja ilham itu berasal dari Allah, Sang Pemilik Ilmu Pengetahuan. Bahkan karena itulah, ia menamakan anaknya dengan Ilham Akbar Habibie.

Para santri perlu menyadari mitos ilmu ladunni di pesantren ini agar mereka menyiapkan diri untuk belajar keras sekeras pendidikan anak kiai. Tak hanya itu, mereka juga harus memperluas wilayah keilmuan dari yang hanya berkaitan dengan keilmuan yang menyangkut fardlu ‘ain seperti shalat, puasa, dan haji kepada keilmuan yang berkaitan dengan fardlu kifayah, termasuk di dalamnya sains dan teknologi untuk kebaikan dan kemudahan urusan dunia yang oleh Nabi disebut mazra’at al-akhirah. Dengan usaha yang sama-sama keras, baru akan ada kemungkinan capaian yang sama.

Di era digitalisasi ini para santri memiliki kesempatan untuk mengakses kitab-kitab yang dulu hanya menjadi fasilitas keluarga kiai, karena sudah mengoleksinya dalam beberapa generasi. Di era digitalisasi, semua kitab, mulai dari yang modern sampai yang paling klasik, juga buku-buku sains dan teknologi bisa diakses dengan mudah semudah menggerakkan jari di perangkat komunikasi. Wallahu a’lam bi al-shawab.

BAGIKAN

Komentar