Menjadi Manusia Sempurna

317
Ilustrasi

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – “… Aku juga tahu, bahwa Allah niscaya akan mengujiku dengan ucapan dari orang-orang yang menyerang kehormatanku, sehingga aku mampu memperlakukan mereka dengan kelembutan hati.” – Ibn ‘Arabi.

Siapa yang tidak kenal dengan Ibn ‘Arabi, seorang ulama, filsuf dan sufi ini telah membuat jutaan umat manusia mencintainya, bahkan banyak juga yang membencinya. Jika kita mengkaji filsafat dan misitisisme pasti kita mengetahui kehebatannya dalam memecahkan suatu problematik, yang belum tentu dapat dipecahkan oleh lain.

Banyak karya yang dihasilkan oleh Syaikh al-Akbar ini, salahsatu julukan Ibn ‘Arabi. Diantara kitab fenomenal hasil karyanya adalah Al-Futuhat Al-Makkiyyah dan Fushush Al-Hikam. Meskipun tokoh ini terbilang “kontroversial”, tapi Ia sangat tulus dan komitmen tinggi untuk tetap setia kepada Syariat Muhammad.

Ia gambarkan bukti kecintaannya dalam mukadimah di bagian akhir dalam kitab Fushush Al-Hikam. “Dan hanya kepada Allah semata saya berharap, semoga saya termasuk orang yang diteguhkan sehingga menjadi teguh dan meneguhkan (orang lain), dan diikatkan ke dalam Syariat Muhammad yang suci sehingga menjadi terikat (kepadanya) dan mengikatkan (orang lain) kepadanya. Semoga Allah menggiring kita dibarisannya, sebagaimana Dia telah menjadikan kita bagian dari umatnya.

Dari ungkapan di atas, itu membuktikan bahwasannya Ibn ‘Arabi, menaruh kehormatan kepada Nabi Muhammad Saw., tidak seperti yang dituduhkan sebagian pihak bahwa Ibn ‘Arabi melecehkan Nabi saw (yang sesungguhnya lahir dari kegagalan dalam memahami hasil pemikirannya).

Tapi di sini saya tidak akan membahas sisi kontroversial dari Ibn ‘Arabi. Masih banyak sisi lain untuk dijadikan khazanah keilmuan untuk menjadikan kita sebagai manusia sempurna (al-insan al-kamil). Dalam hal ini Ibn ‘Arabi memandang “manusia” pada dua tataran berbeda.

Toshiko Izutsu menjelaskan, yang pertama adalah pada tataran kosmik. Pembahasan yang dibahas adalah “umat manusia”. “Manusia” pada tataran ini adalah maujud paling sempurna di muka bumi, Karena dia adalah citra Tuhan. Manusia sempurna dalam pemaknaan ini dipandang sebagai ikhtisar sempurna dari alam semesta, intisari spirit seluruh alam Wujud, wujud yang dalam dirinya terhimpun dan terangkum seluruh unsur yang menjelma di alam semesta. Ringkasnya, “manusia” adalah Mikrokosmos. Pada tataran kedua, sebaliknya, “manusia” berarti sesosok individu. Dalam perspektif ini ada beberapa derajat dan peringkat manusia.

Perlu diketahui, selain konsep manusia sempurna, Ibn ‘Arabi diidentikkan dengan doktrin wahdat al-wujud sebagai inti ajarannya. Jadi antara keduanya saling keterkaitan. Konsekuensi ontologis sifat teomorfis ini, mencakup semua nama Ilahi yang menampakkan diriNya pada alam sebagai keseluruhan, menjadikan manusia mencakup semua realitas. Dengan kata lain, manusia disebut miniatur alam. Manusia sempurna merupakan perpaduan semua Nama-nama dan Sifat Ilahi serta semua realitas.

Henry Corbin mengatakan, Al-Insan Al-Kamil yaitu merenungkan penampakan wajah Ilahi menampakkan wajah Tuhan yang ada pada setiap wujud dan yang berupa roh kudus dari wujud itu. Visi ini selaras dengan roh wujud berhubungan dengan suatu bentuk (hadharat) tertentu yang bersifat inderawi dan ragawi. Yaitu hal yang esensial bagi wujud Ilahi dengan kata lain esensi bagi Tuhan yang tak terbatas untuk memanifestasikan-diri di dalam bentuk terbatas.

Dapat disimpulkan bahwa konsep manusia sempurna Ibn ‘Arabi, yaitu manusia yang mampu memanifestasikan Nama-nama Ilahiyyah atau Atribut-atribut Tuhan secara sempurna. Selain itu, manusia sempurna pada satu sisi (ontologis) merupakan wadah tajalli (penampakan lahir) yang paling sempurna dari citra Tuhan (Imago Dei), di sisi lain (mistis) ia merupakan manusia yang telah menyadari kesatuan realitasnya dengan Tuhan. Dapat dikatakan bahwa yang menjadi ciri-ciri Manusia Sempurna adalah manusia yang mampu menampilkan Sifat-sifat Allah. (YJ)

Oleh: Nur Cahyono

Komentar