Menghidupkan Teater Melalui Manajemen Pentas Striping

218
Egy Massadiah

FOKUSUTAMA.comKota Kreatif Pekalongan tiba-tiba heboh, karena hadirnya sekelompok seniman teater yang mengadakan pertunjukan striping teater di sekolah-sekolah. Istilah striping biasanya digunakan untuk sinetron yang tayang setiap hari, sekarang bisa juga dipakai dalan pertunjukan teater.

Disebut teater striping karena dipentaskan setiap hari selama seminggu, dan pertunjukannya dilakukan 2 kali dalam 1 hari, di tempat yang berbeda pula.

Bejo Sulaktono mantan Ketua Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sekaligus sutradara yang telah memproduksi banyak sinetron dan FTV ini bercerita bagaimana pementasan tersebut bisa terwujud.

Saat ditemui di Jakarta, Selasa (26/7/2017), Bejo mengaku sangat senang sekaligus bangga pentas Teater yang berjudul “Katy Perry From Cikampret” yang diadaptasi dari naskah “Mentang-Mentang dari New York” itu bisa dinikmati para pelajar di Pekalongan. Ia awalnya tidak menyangka kalau Teater yang sebagian besar pemainnya pernah ia sutradarai tersebut dapat melakukan pementasan striping layaknya sebuah sinetron.

Bejo lalu berkisah percakapannya dengan seorang  penggiat kesenian yang juga anggota senior Teater Mandiri Egy Massadiah menjadi cikal-bakal ide teater striping.

Egy Massadiah
Egy Massadiah saat berkunjung ke La Mama Theatre Off Off Broadway New York 2016 lalu

“Istilah striping teater ini muncul dari diskusi saya dengan Egy Massadiah, seorang sahabat yang sangat memperhatikan teater dan para senimannya. Bang Egy ini sangat prihatin dengan sistem produksi di dalam teater, yang kesulitan mensejahterakan senimannya. Karena itu bang Egy selalu bilang; coba jangan hanya berpikir tentang dua jam di atas panggung saja, pikirkan juga sistem produksi dan pemasarannya yang baik, “cerita Bejo saat syuting FTV di kawasan Jakarta.

Keluh kesah Bejo mengenai keprihatinan terhadap dunia teater di Indonesia yang belum bisa membangkitkan pendapatan para pemain dan kru itu disambut baik oleh Egy. Menurutnya Egy yang sejak dulu peduli pada seniman teater, memang selalu memberikan masukan yang aplikatif terkait manajemen dan pemasaran seni pertunjukan.

“Kata bang Egy jika anda membuat satu pertunjukan, anggaplah durasinya satu jam, nah ini sistem jualannya seperti jualan real estate, belum jadi rumahnya Anda sudah jual. Saat anda masih garap produksinya anda keliling ke SMP dan SMA jualan, jadi satu hari anda pentas dua kali, misal SMA 1 pentas pagi, SMA 2 pentas siang, anggaplah SMA pertama memberikan anggaran Rp 2 juta, SMA kedua juga Rp 2 juta, berarti sehari pementasan teater memperoleh dana Rp 4 juta. Kalau main 10 kali memperoleh Rp 40 juta, main 20 kali Rp 80 juta,” kisah Bejo menirukan wejangan Egy Massadiah.

Bejo juga sangat setuju dengan pemikiran Egy yang menyarankan agar di setiap pementasan ada pesan-pesan yang relevan disampaikan kepada para siswa, seperti: informasi bahaya narkoba, menumbuhkan jiwa entrepreneurship, pentingnya pemahaman akan bahaya radikalisme dengan cara yang mudah diterima oleh anak muda. Sehingga kedepannya pementasan teater di sekolah-sekolah bisa bekerjasama dengan pihak terkait seperti Badan Narkotika Nasional (BNN), Perbankan, dan Badan Nasional Penanggulangan Terosime (BNPT).

Untuk itu selain  pertunjukan teater, pihaknya juga akan melakukan diskusi dengan para siswa baik mengenai pesan moral dalam cerita yang dipentaskan, maupun ilmu teater itu sendiri. Sehingga di masa depan banyak bibit baru dari lingkungan sekolah yang mencintai dunia teater serta kebudayaan. sekaligus memiliki wawasan luas.

“Nah pasarkan di sekolah-sekolah satu jam pertunjukan, satu jam diskusi mengenai apa itu teater, karena dunia teater ini ilmu yang paripurna, mendekatkan murid-murid mengetahui banyak hal. Ini disiplin ilmu yang lengkap, di dalamnya ada psikologi, ada sosiologi, ada pembangunan karakter, ada kejujuran, banyak sekali ilmu-ilmu, ada ekonomi, manajemen, yang bisa dishare kepada anak muda. Dalam pertunjukan itu bisa diselipkan pesan seperti kampanye bahaya narkoba, kampanye pentingnya entrepreneurship, kampanye bahaya ideologi radikalisme dan terorisme, jadi melalui teater kita dekatkan persoalan-persoalan masyarakat kepada siswa,  dengan demikian maka anak-anak itu akan mengapresiasi seni pertujukan, pengelola teater akan mendapatkan penghasilan yang signifikan,” ungkap Bejo memaparkan pemikiran Egy.

Bejo berharap teater striping ini dapat  dicontoh oleh pemerintah daerah kabupaten lainnya di Indonesia. Pria yang pembawaanya murah senyum tersebut tak lupa mengucapkan terimakasih kepada organisasi PARFI selaku penanggung jawab teater dan Pemerintah Kota Pekalongan yang telah menyambut baik sehingga terwujud dalam sebuah program bertajuk “ACTING GOES TO SCHOOL”.

“Terimakasih Bang Egy atas pemikirannya, sekarang sedang diuji coba di Pekalongan, dampaknya bagus sekali. Mudah-mudahan pemerintah daerah yang lain mau mengadopsi ini, terimakasih pula buat Pemkot Pekalongan,” pungkasnya. (ET)

 

BAGIKAN

Komentar