Live In Village Blusukannya Anak SMP Percik

Guide The Students To The Nature

787

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Blusukan kini menjadi aktifitas yang sangat populer, terlebih bagi para pejabat yang ingin mengetahui seluk beluk kehidupan rakyatnya secara lebih detail. Tujuannya tentu saja untuk memahami kondisi masyarakat yang sesungguhnya, untuk bisa menjadi landasan berpikir dalam menentukan kebijakan. Seperti tidak mau kalah, SMP Perguruan “Cikini” pun mencanangkan program blusukan yang menjadi agenda tahunan. Tujuannya tentu saja berbeda. Program blusukan yang diberi nama Home Stay (Live in Village) ini dilaksanakan dengan tujuan (bukan sekadar) melakukan kunjungan, namun selama 3 hari para siswa diwajibkan tinggal bersama dengan penduduk perkampungan setempat dengan segala aktifitas keseharian mulai dari menimba air, memasak dengan tungku, membatik, membuat makanan tradisional, menanam padi, menangkap ikan, membajak sawah sampai dengan memandikan ternak. Tujuannya untuk mengenalkan kepada para siswa bagaimana ragam kehidupan masyarakat pedesaan. Diharapkan kegiatan ini dapat menumbuhkan empati serta kepekaan sosial bagi para siswa.

PHOTO 7

Hal ini tidak terlepas dari karakter sekolah yang menanamkan pentingnya wawasan kebangsaan (nasionalisme) berdasarkan iman dan taqwa dengan mengedepankan pembelajaran yang benar-benar memperhatikan keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Live in Village juga memiliki misi penanaman kesadaran sosial untuk dapat memahami dan mengembangkan pengetahuan tentang alam dan masyarakat serta meningkatkan rasa kebersamaan dan solidaritas antara siswa sekaligus membangun hubungan dengan orang lain di dalam masyarakat. Bukan hanya itu, kegiatan yang wajib diikuti oleh para siswa ini juga berkontribusi dalam memberikan pengalaman langsung untuk mengamati dan menemukan serta melakukan hal-hal baru agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini sudah berjalan selama lebih dari 5 tahun dengan kunjungan ke berbagai daerah seperti Karawang, Purwakarta (Subang), Yogyakarta, serta di Pulau Bali. Setiap wilayah memiliki keunikan yang memberikan kesan tersendiri. Hal ini disebabkan adanya perbedaan adat istiadat serta kebiasaan pada setiap daerah yang dikunjungi. Sebagai contoh kunjungan ke desa Jasri, Bali pada 2015 justru memberikan pengalaman yang sangat mengasyikkan. Meski berbeda agama penduduk Bali sangat menghormati tamu-tamu yang datang. Saat baru tiba rombongan disambut dengan meriah dengan pembukaan oleh ketua adat desa Jasri diiringi tarian pendet khas Bali. Para siswa di antar ke rumah penduduk sekitar, dilayani dengan ramah, juga dilatih tari Bali dan musik Gamelan Bali, dibimbing membuat janur khas Bali, juga diperkenalkan kebudayaan Bali. Tidak lupa siswa-siswi juga diajak menyusuri sawah hingga ke pantai Jasri yang indah dan belum banyak dikenal masyarakat Indonesia seperti halnya pantai Kuta.

PHOTO 1

Berbeda halnya dengan Live in di Purwakarta (Subang) Jawa Barat pada 2016. Siswa-siswi harus naik mobil Pick Up secara bergantian dengan jalan yang terjal dan dikelilingi jurang, Kesan tersendiri ketika para siswa yang terbiasa naik mobil mewah harus duduk berdesakan di mobil pick up. Di sini para siswa mendapat banyak pengetahuan mengenai cara menumbuk padi, membajak sawah, menangkap ikan dan membuat kerajinan tangan. Tak lupa Kegiatan Bakti Sosial pun dilakukan untuk melatih rasa empati serta solidaritas para siswa.

Home Stay merupakan salah satu program unggulan dari SMP Percik, selain dari pembinaan agama serta pembentukan karakter para siswa. “Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mendidik karakter para siswa agar lebih mandiri dan bertanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal positif yang dapat diambil dari kegiatan ini mulai dari belajar hidup, bersosialisasi, hidup sederhana dan sikap mandiri, pun berbagai pelajaran lain selama kegiatan berlangsung”, demikian papar Edy Supriyanto, S.Ag, Kepala SMP Perguruan “Cikini”. (hp)

Komentar