FOKUSUTAMA.COM – Memasuki umur yang ke 72 tahun RI mempunyai harapan dan cita-cita terhadap pembangunan bangsa ke depan menjadi negara literat (terpelajar) dengan digalakannya Literasi di setiap sekolah-sekolah dalam bagian implementasi kurikulum 2013 dengan tagline “Indonesia Emas 2045”. Apakah tagline tersebut sebagai tantangan atau ancaman? Harapan dan cita-cita tersebut nampaknya belum sesuai karena masih banyaknya satuan pendidikan belum memiliki fasilitas literasi yang mumpuni maupun daya minat baca anak masih sangat minim, sehingga dibutuhkan cara lain untuk mendorong minat baca para siswa baik di rumah, di setiap sekolah ataupun satuan pendidikan lainnya bahkan di lingkungan bermainnya.

Melihat negara-negara maju, indikator keberhasilan negara maju salah satu pendidikannya adalah mewajibkan literasi setiap siswa/anak satu buku perminggu, bahkan dua buku/minggu sehingga dapat diukur tingkat pengetahuan dan daya baca mereka melalui ujian-ujian literasi oleh guru/pengujinya masing-masing setiap minggunya ada juga yang bercerita hasil bacaannya kepada teman-teman di rumahnya maupun di lingkungan rumahnya. Negara maju dan buku memang tidak bisa dipisahkan bagaikan dua sisi mata uang yang sama-sama mempunyai nilai ataupun harganya, karena negara maju membutuhkan pengetahuan yang luas dan bisa menjaga marwah negaranya tersebut.

Dari hasil survey United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO) tentang minat baca di 61 negara, Indonesia berada pada posisi terendah kedua dari 61 negara yang telah disurvei tersebut.

Dari Lembaga United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO) merilis hasil survei minat baca di 61 negara. Beberapa sumber menunjukan hasil statistika minat baca masyarakat Indonesia berada pada posisi terendah kedua dari 61 negara yang telah disurvei. Sungguh ironi negara besar seperti Indonesia ini, mempunyai SDM yang sangat banyak, akan tetapi tidak dimaksimalkan SDM tersebut, ini menunjukkan sebagai tantangan ataupun ancaman untuk di masa depan.

Selain itu, Beberapa lembaga survei menyatakan fakta tentang rendahnya budaya literasi di Indonesia. Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan, pada tahun 2012 budaya literasi di Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negera yang disurvei. Pada penelitian yang sama ditunjukkan, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara dalam kategori minat baca. Data Unesco menyebutkan posisi membaca Indonesia 0.001%—artinya dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca. Hasil survei tersebut cukup memprihatinkan.

Budaya literasi dalam artian secara bahasa adalah membiasakan atau membudayakan perbuatan berupa baca dan tulis serta memberikan wawasan baru terhadap si literat tersebut. Sehingga harapan dari budaya literasi ialah mencipatakan inovasi-inovasi dalam perubahan dan kemudahan zaman. Walaupun pada dasarnya literasi juga memiliki perluasan makna yang begitu luas, serta memiliki tingkatan tersendiri dalam tingkatan literasi.

Melihat Optimisme Literasi di negeri ini lewat pembuat kebijakan (red:pemerintah), nampaknya semakin ada perkembangan dan kemajuan yang signifikan melalui usaha-usaha yang dilakukan oleh kemendikbud dan satuan pendidikan lainnya untuk menggiatkan budaya literasi di setiap sekolah-sekolah untuk menghasilkan generasi bangsa yang berwawasan luas dan bisa bersaing dengan negara-negara maju yang dihasilkan oleh budaya literat yang tinggi melalui kurikulumnya. Dan ada beberapa solusi untuk meningkatkan budaya baca untuk bangsa ini diantaranya; memulai baca dari rumah, gunakan teknologi untuk membantu literasi, perbanyak sarana baca, berikan motivasi/besarkan hatinya bahwa literasi sangat penting untuk peradaban negeri ini, kompetisikan literasi dari tingkat desa sampai dengan nasional.

Komentar