Kongres HMI XXX; Detik-detik yang Menentukan Arah Perjuangan HMI

475

Oleh dr. Iswanto (Kandidat Ketua Umum PB HMI 2018-2020)

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Ada sebuah masa, ketika di kota Ambon, orang-orang tak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari. Itu masa ketika orang-orang berjaga di jalan-jalan sambil menenteng senjata rakitan, dan pedang. Itu hari-hari yang mencekam ketika doktrin persaudaraan pela gandong dicampakkan dan diganti dengan kemarahan dan balas dendam. Entah bagaimana awal mulanya hingga kemudian kota ambon yang damai di hari-hari itu bisa meledak dan kengerian menjalar ke mana-mana. Ada desas-desus yang tak benar-benar terang tentang sopir angkot yang dipalak oleh seorang pemuda muslim, juga ada desas-desus soal pemuda muslim yang dikejar parang, tapi tak ada yang benar-benar tahu, bagaimana sebuah insiden antara pemuda Batu Merah dengan tetangga mereka di Pasar Mardika bisa meluas sedemikian luas meluluhlantakkan seluruh Maluku, menewaskan sekian ratus orang, hanya dalam sekian hari.

Di Ambon, awalnya adalah prasangka. Orang-orang terbelah akibat rasa curiga dan tak aman. Beberapa bulan sebelum peristiwa idul fitri berdarah di bulan februari 1998 itu, beredar issue tentang saling serang di Asaude. Orang-orang lalu saling melihat dengan penuh curiga dan ketakutan. Identitas kelompok mengeras menjadi tumpukan sekam kebencian dengan bara yang menyala-nyala, yang tingggal menunggu waktu untuk meledak dengan sekali picu. Orang tak lagi dilihat sebagai individu, tapi tak lebih dari representassi identitas kelompok belaka. Tak ada lagi manusia selain Acang dan Obet. Lalu selanjutnya kita sama-sama tahu, dengan sebegitu mudahnya orang-orang yang tadinya bersaudara dan sekian lama hidup dalam kedamaian, di hari-hari itu berubah jadi mahluk yang penuh angkara.

Kini, telah 15 tahun berlalu sejak konflik Ambon resmi berakhir. Kengeriannya mungkin masih menghantui kita hingga sekarang. Sulit melupakan sebuah kerusuhan yang berlangsung selama tiga tahun itu tanpa membayangkan ribuan orang yang meregang nyawa, ribuan rumah yang dibakar, ribuan lainnya yang mengungsi dan kehilangan keluarga dan kehidupan tenteram.

Namun sepertinya hidup di Indonesia belakangan ini, malah menjadi seperti hidup di Ambon 20 tahun yang lalu. Sejak pilpres 2014 lalu, Kita serasa hidup di tengah publik yang terbelah tajam. Hari-hari belakangan ini, kita seakan hidup dalam rasa saling curiga yang mengeras sedemikian rupa, sehingga dalam banyak hal, rasa-rasanya tak bisa menemukan issue satupun, tanpa orang bisa berdebat dengan sehat tanpa saling mencurigai atas issue itu. Setiap kali kita membuka media sosial, yang kita lihat bukanlah diskusi yang mencerahkan tapi tak lebih dari saling tuding antara yang pro dan anti Jokowi, antara yang pro dan anti Ahok, antara yang pro dan anti LGBT, antara yang pro dan anti Perppu, dll.

Belakangan ini pula, orang semakin mudah mendefinisikan identitas hanya karena sebuah pendapat atas sebuah issue. Misalnya, semakin sulit untuk mengkritik Jokowi tanpa dituduh haters, semakin sulit membela Ahok tanpa dituduh sebagai cebong, atau semakin sulit menyatakan pembelaan atas hak-hak dasar kaum LGBT tanpa dituduh liberalis. Identitas manusia seakan-akan menjadi hitam putih dan begitu gampang dikerangkeng dalam kolom-kolom rigid, yang anehnya selalu dikotomis: cebong vs bani datar, haters vs lovers, fundamentalis vs liberalis, dll.

Di masa-masa ketika identitas kelompok yang semakin mengeras dan public sedemikian gampang dihasut berita-berita bohong inilah, kita harus melihat dan berkaca kembali ke Ambon 20 tahun yang lalu. Sebuah ledakan kemarahan, pertunjukan kebencian, dan kerusuhan yang mengerikan itu tak mungkin terjadi dalam satu malam. Ada kebencian dan rasa curiga yang menjalar seperti kabut di lembah. Ada identitas kelompok yang mengeras di sana. Ada ketakutan yang diam-diam menyala dibalik sekam, yang menunggu pemantik api.

Maka jika Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) menyelenggarakan kongres-nya yang ketiga puluh di kota Ambon, dengan sebuah tema yang deklaratif: “Meneguhkan kebangsaan Mewujudkan Indonesia Berkeadilan”, maka ini adalah sebuah pesan, tak hanya bagi kader HmI, tapi juga bagi segenap anak bangsa, bahwa kita pernah punya pengalaman pahit di masa lalu; kita pernah saling membunuh sesama anak bangsa karena kita lalai menjaga negeri ini dari rasa curiga dan kebencian.

Kongres HmI akan dimulai sebentar lagi, maka tak ada salahnya bagi kita semua untuk bercermin ke masa lalu dan memetik pelajaran, sebab di masa-masa yang penuh ketegangan inilah, arah perjuangan HmI sesungguhnya sedang diuji. Apakah HmI masih hendak menyelamatkan bangsa ini dari jurang perpecahan dan kebencian, atau malah larut dalam pertunjukan euphoria politik identitas. Di masa-masa inilah , konsistensi perjuangan HMI sebagai simbol titik temu (meeting point) cita-cita kebangsaan dan keummatan sedang ditunggu pembuktiannya.

Selamat Kongres XXX, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Semoga tak salah arah mengayunkan pendulum perjuangan. Semoga ajang kontestasi ini bisa menjadi teladan bagi seluruh publik, tentang bagaimana memperjuangkan gagasan tanpa perlu saling mencederai, juga bagaimana ide-ide dan pikiran-pikiran yang berbeda bisa dipertemukan dalam sebuah sinergi di jalan bersama. (TYL)

BAGIKAN

Komentar