Kepemimpinan Transformatif, Bentuk Ideal Pemimpin

101

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Pemimpin menjadi sebuah komponen penting yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Pemimpin muncul karena adanya perbedaan-perbedaan dalam kehidupan manusia yang heterogen, yang kemudian butuh untuk disatukan, diselaraskan dan diarahkan agar perbedaan-perbedaan itu tidak melahirkan sebuah konflik atau banyaknya masalah.

Adanya pemimpin untuk mencari solusi itu. Dia adalah “orang terpilih” karena semua pihak yang berbeda pendapat setuju untuk menjadikannya penengah. Oleh sebab itu kebanyakan pemimpin sejati yang kita kenal adalah orang yang memiliki kelebihan-kelebihan sifat maupun kemampuan dibanding manusia kebanyakan.

Menurut Stoner, kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi orang lain dengan maksud untuk tercapainya tujuan bersama. Selain itu menjadi seorang pemimpin harus memiliki ilmu dan menjadi contoh yang baik (khuswatun hasanah) bagi kelompok atau organisasi yang dipimpinnya. Ia harus mampu menjadi seorang figur yang dihormati dan disegani.

Dalam Islam ketika merujuk kepada kepemimpinan Nabi Saw., banyak ilmu yang bisa kita pelajari untuk menjadi seorang pemimpin. Nabi selalu menunjukkan perilaku yang baik dan rela mempertahankan kebenarannya. Meski pada waktu itu, Ia dimusuhi oleh kaum Quraisy. Hal demikianlah yang patut ditiru untuk menjadi seorang pemimpin.

Ini membuktikan bahwa pada dasarnya menjadi seorang pemimpin itu tidak mudah. Bahkan sahabat Nabi, Umar bin Khattab ketika ditunjuk menjadi seorang pemimpin untuk menggantikan Abu Bakar, Ia sampai meneteskan air mata. Ia menangis karena akan menanggung amanah yang sangat berat.

Tapi realitas yang terjadi saat ini adalah banyak orang yang memperebutkan kekuasaan hanya untuk mencari eksistensi, popularitas dan materi. Banyak para pejabat yang tidak amanah, dan banyak yang terkena kasus korupsi. Sehingga terjadi pergesaran nilai didalamnya. Selain itu, untuk menjadi pemimpin, banyak tindakan-tindakan yang sangat tidak baik. Mereka saling menjatuhkan, saling memfitnah, bahkan mengadu domba untu menjadi pemimpin. Hal demikianlah yang membuat anggota yang dipimpin menjadi tidak adil. Kalau dalam negara, keadilan masih belum bisa ditegakkan.

Untuk menemukan bentuk ideal dalam kepemimpinan adalah kepemimpinan transformatif. Berliana menjelaskan, pemimpin harus mampu merubah keadaan masyarakatnya dari bodoh menjadi pintar, dari sengsara menjadi sejahtera, dan bahagia. Semua itu dapat dicapai ketika pemimpin mampu mengamalkan iman, ilmu dan amal sebagai landasan hidupnya.(YJ)

Oleh: Nur Cahyono

BAGIKAN

Komentar