Kekalahan Nalar Atas Mistik dan Dimas Kanjeng

2275
Dimas Kanjeng Taat Pribadi

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Sungguh mengherankan ketika orang yang menumpulkan nalar untuk berpikir bisa memiliki pengikut yang besar, seperti Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Orang yang ingin menjadi muridnya pun berasal dari berbagai latar status sosial, ekonomi dan pendidikan.

Hal penggandaan uang secara gaib oleh Dimas Kanjeng, dinilai peneliti Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) Mohammad Shofan, membuktikan bahwa masyarakat kita masih percaya sama hal-hal mistik.

“Masyarakat kita, khususnya umat Islam, itu sebagian besar masih percaya kepada hal-hal yang mistis, tidak rasional. Jika ada seseorang yang ditengarai memiliki kemampuan ini dan itu—terlebih dalam kasus Dimas ini—mereka seolah sudah kehilangan akal sehat,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (29/09/2016).

Keyakinan melebihi segalanya, sehingga masyarakat kita malas untuk mengkajinya lebih dalam. “Keyakinan mengalahkan akal sehat,” kata peneliti itu.

Selain itu, Shofan menyatakan bahwa masyarakat kita cenderung mencari dengan cara-cara yang instan serta pragmatis.

“Mereka rela menjadi santri dengan tujuan bisa menjadi seperti gurunya atau menyetor uang dengan harapan, misalnya, bisa digandakan lebih. Ini kan cara cara pragmatis,” tegasnya.

Pertarungan antara logika dan mistis

Dr. Halid Alkaf dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta mengatakan, fenomena Dimas Kanjeng ini merupakan sebuah bentuk pertarungan logika dan mistis. Dari kasus ini kita bisa menilai sejauh mana masyarakat kita menggunakan pkirannya, serta pandangan masyarakat kita tentang hal-hal yang sifatnya mistis.

“fenomena Dimas Kanjeng ini merupakan sebuah bentuk pertarungan logika dan mistis”

“Mungkin si Dimas Kanjeng mau meniru sunan Bonang, yang (dalam tuturan lisan) bisa mengubah pohon aren menjadi emas,” terang Halid.

Satu pandangan dengan Halid, Shofan pun menyerukan agar para ulama proaktif dalam berdakwah memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa ajaran Islam adalah agama yang mengedepankan akal sehat serta masuk akal.

“Islam itu agama rasional, bukan agama mistis. Dimensi rasional dalam agama inilah yang kurang mendapatkan perhatian atau luput dari perhatian para ulama. Islam bukan hanya mengajarkan dimensi ritualitas-normatif saja, tetapi juga dimensi historisitas rasional. Jika orang ingin sukses, ia harus bekerja keras—terlebih Islam mengajarkan tentang nilai nilai kehidupan dalam membangun etos kerja yang baik. Itulah yang diteladankan oleh Muhammad saw,” jelasnya.

Di mana ulama?

Seharusnya ulama mempunyai andil yang besar dalam membina umat Islam. Dengan cara mengajarkan agama melalui pendekatan rasional. Umat Islam haru dididik untuk tetap menggunakan akal sehatnya serta dikaji terus-menerus.

“Hal yang amat sangat saya sayangkan, kasus penggandaan uang ini, kenapa baru sekarang ramai dibicarakan setelah pihak kepolisian bertindak—meskipun kasus yang muncul adalah dugaan pembunuhan terhadap santri. Ini bukti bahwa Ulama telah melakukan pembiaran terhadap praktik-praktik kejahatan yang membawa-bawa ajaran agama,” ujar Shofan.

Shofan pun berharap ulama harus memberikan pencerahan erta berkerjasama dengan instansi Kemenag, instansi pendidikan, sekolah, pesantren, serta tokoh mayarakat.

“Kerjasama ini dimungkinkan bisa mencegah agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.

Mengapa orang sekelas Marwah Daud Ibrahim bisa terlibat?

Jika mayarakat yang kurang terdidik dalam keilmuannya dan percaya kepada kemampuan di luar nalar Dimas masih dimaklumkan. Akan tetapi, intelektual seperti Marwah Daud Ibrahim yang mempercayai “karomah” Dimas Kanjeng menjadi tanda tanya.

“Seperti yang saya bilang di atas bahwa keyakinan seseorang—siapa pun dia, terlebih Marwah yang (doktor) lulusan Amerika, dan menjadi pengurus ICMI—bisa saja terjebak pada keyakinan buta. Nalar keilmuannya yang rasional-sekular itu tak mampu melihat secara kritis dimensi irasionalitas agama,” tambah Shofan.

Shofan pun menilai bahwa pembelaan Marwah terhadap Dimas—yang memiliki karomah dan uang yang digandakannya itu bukan merpakan uang palsu—ini membuktikan kemenangan keyakinan atas rasionalis.

“Keyakinan mengatasi rasionalitas. Amat sangat disayangkan, tentunya,” jelas Shofan.

Marwah Daud diketahui menjabat sebagai Ketua Yayasan Dimas Kanjeng, bergabung tahun 2011. Sebagai Ketua Yayasan, Marwah mendapatkan jadwal untuk diperiksa oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim.

Mantan Ketua Presidium ICMI itu, diduga tahu mengenai perjalanan praktik penipuan dengan modus penggandaan uang oleh Dimas Kanjeng.

Derita korban dan nyanyian ceria Dimas Kanjeng

Belum diketahui pasti jumlah korban Dimas. Yang pasti, penyesalan yang sangat mendalam dialami korban.

“Salah satu keluarga saya menjadi korban penipuan Kanjeng Dimas ini. Bahkan, untuk setor uang yang dijanjikan untuk dilipatgandakan, saudara saya ini menggadaikan sertifikat milik orangtuanya. Awalnya dia bekerja sebagai security di salah satu bank di tempat tinggalnya. Saya tidak tahu pasti kenapa dia bisa sampai keluar dari tempat kerjanya,” ujar Ahmad Harish.

Pria asal Cirebon itu menuturkan jika Ia beserta keluarganya sudah memberikan nasihat untuk berhenti mempercayainya, termasuk istri paman. Tetapi, paman marah ketika istrinya mencemaskan keadaannya.

“Mendengar Dimas Koplak ditangkap, tentu istrinya khawatir suaminya ikut terjaring polisi. Eh, istri menelpon malah dimarah-marahin. Katanya gak usah ikut campur urusan suaminya. Istrinya pun hanya pasrah melihat kelakuan suaminya yang irasional itu,” ungkap Harish.

Kekhawatiran justru berbeda dengan kondisi yang dialami Dimas. Dalam sebuah video berdurasi 32 detik Dimas menyanyikan lagu Rhoma Irama yang telah dimodifikasi.

“Berakit-rakit ke hulu/berenang ke tepian. Sakit-sakit dahulu/susah-susah dahulu/baru kemudian menghitung uang.”

Tepat saat menghitung uang, Dimas pun mengacungkan dua jempolnya serta tersenyum lebar, dan diikuti oleh permintaan orang disekitarnya agar diulang, menggunakan bahasa Jawa.

Maneh-maneh. Menghitung uange yok opo? (lagi-lagi. ‘menghitung uang’-nya gimana?”

Dimas pun dengan bangga mengulanginya. (NC)

BAGIKAN

Komentar