Kejadian ‘Buruk’ yang Terulang

766
Ilustrasi

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Masih ingat Presiden ke-2 Republik Indonesia? Masih ingatkah ungkapan yang dibuat oleh orang-orang yang merindukan zamannya “PIYE KABARE, ENAK ZAMANKU TO” (Suharto), benar adanya dan bagian dari Anda sepakat, memang masih enak zaman Pak Harto. (Melihat dari sisi baiknya dan kesejahteraan masyarakat pada waktu itu, terlepas pembungkaman hak berpendapat dan berserikat).

Karena di zaman Pak Harto yang menjadi seorang (Suharto), hanya Pak Harto itu sendiri, tetapi sekarang banyak Suharto-Suharto berkeliaran.

Salah satu contohnya, hutang yang dihasilkan Pak Harto pada masanya menjabat Presiden RI lebih dari 30 tahun lamanya, bisa disamakan dengan Suharto model baru dengan hanya 2 tahun dan belum genap satu priode memimpin bangsa ini.

Jika melihat di zaman Pak Harto Anda berserikat, berkumpul dan bersuara itu dilarang atau ada pembatasan, apakah tidak dengan zaman ini yang lebih parah pada zaman Pak Harto dulu, berita di televisi, koran ataupun online apakah mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat luas dan terkesan menutup-nutupi berita yang seharusnya masyarakat tau, dengan memberitakan hal yang tidak seimbang. Apakah ini yang diharapkan, setelah lengsernya Pak Harto?

“Anda berserikat, berkumpul dan bersuara itu dilarang atau ada pembatasan, apakah tidak dengan zaman ini yang lebih parah pada zaman Pak Harto dulu, berita di televisi, koran ataupun online apakah mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat luas dan terkesan menutup-nutupi berita yang seharusnya masyarakat tau, dengan memberitakan hal yang tidak seimbang”

Anda mengkritik presiden dan pemerintahan dibilang tindakan mengolok-olok presiden dan dianggap provokator dan akan ditangkap. Apakah ini berbeda? Ini sama saja dengan zaman orba dulu.

Dulu mahasiswa demo ditangkap dan saat ini mahasiswa demo diajak makan ke dalam istana dan diiming-imingi beasiswa, supaya tidak lagi mengkritisi pemerintahan, apa ini yang Anda harapkan? Ini sama saja dengan zaman Pak Harto dulu kawan, mengapa Anda masih diam dan tidak bertindak! Why? Limadza? Kenapa? Kenapa semua ini bisa terjadi???

Bangsa ini harus dipimpin oleh ahlinya, bukan orang amatir dalam memimpin, karena ini adalah negara bukan komunitas biasa.

Pemimpin negara harus bisa dan paham tentang tugas pokok dan fungsinya dalam memimpin bukan bertindak secara otoriter dan seperti tidak paham aturan mainnya.

Inilah kegagalan reformasi, kita mengkutuk orde baru (orba) tapi Anda menjalankan orba itu sendiri. Anda menghakimi orang tanpa bisa menjadi hakim untuk diri Anda sendiri, Anda mampu menggerakkan masa tapi tidak mampu menggerakkan hati nurani.

Anda bukan tidak menghormati seorang presiden, tetapi jika seorang presiden mampu meningkatkan derajat bangsa dan harga diri masyarakat, maka rakyat tanpa diminta pun akan menjaga marwah seorang presiden. Tapi nyatanya apakah presiden mampu membuat masyarakat ini memiliki derajat yang tinggi di mata dunia  internasional, tidak kawan!

Anda dibuat bodoh dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan keinginan rakyat, pemimpin Anda bermental pengemis tanpa mampu membangkitkan kedaulatan nasional tanpa mampu mandiri dan berdikari, ditambah malunya bangsa kita sangat mudah diprovokasi oleh alasan keagamaan, dan suku-suku yang ada serta tidak mengertinya pemimpin kita dalam mengelola negara, mengelola pemerintahan, mengelola sumber dayanya. Menteri bisa-bisanya Asing berkewarganegaraan ganda Amerika, dan sumber daya kita resmi dikelola asing, kita bukan menangkap para maling, atau menangkap dan menghukum para mafia pajak malah untuk mengampuninya, KITA BUKANNYA MENANGKAP PARA MALING MALAH MEMINTA TOLONG KEPADA MALING.

Mari kita renungkan kawan, kita dilahirkan untuk menulis takdir kita sendiri dan saatnya kita wujudkan takdir kita sendiri untuk kesejahteraan umat, mari bangkit melawan! (HDA)

BAGIKAN

Komentar