Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat Digenggaman Pemimpin Sejati Ksatria

147
Presiden Gumregah Nusantara, dr. Ali Mahsun Atmo M Biomed

Suatu bangsa atau negeri lebih baik dipimpin oleh sosok yang dhalim daripada tidak ada pemimpin atau terjadi kekosongan kepemimpinan. Sungguh sangat sentral keberadaan pemimpin suatu bangsa atau negeri. Tanpa adanya pemimpin yang ada dan yang terjadi adalah kesemrawutan bahkan berlaku hukum rimba. Bahkan kepunahan hanya tinggal menunggu waktu saja.

Suatu bangsa bermartabat atau tidak tergantung kepada pemimpinnya. Suatu negeri ada keadilan atau tidak tergantung kepada pemimpinnya. Kesejahteraan rakyat dan bangsa disebuah negeri terwujud atau sebaliknya ada digenggaman pemimpinnya. Demikian pula, maju atau terbelakang, cerdas atau bodohnya suatu bangsa kembali kepundak pemimpinnya. Kuat, kokoh, mandiri, merdeka, bersatu, berdaulat, dan adidaya atau terseok-seok semua ada ditangan pemimpinnya. Sungguh sangat mendasar keberadaan pemimpin suatu bangsa atau negeri. Tanpa adanya pemimpin suatu bangsa atau negeri dibelahan dunia manapun akan bernasib terlecehkan, terjajah bahkan menjadi budak bangsa atau negeri lain.

Pemimpin itu tauladan. Setiap tutur kata, perilaku, sikap dan tindakannya dijadikan contoh dan panutan bagi rakyat dan yang dipimpin. Pemimpin itu garda terdepan amanat penderitaan rakyat dan yang dipimpin. Harus mampu temukan secercah cahaya kehidupan ditengah kegelapan. Harus mampu hidup nestapa ditengah kemerlapan.

Pemimpin itu sejati. Menaburkan cinta, kasih dan sayang kepada rakyat dan yang dipimpin dengan tulus dan ikhlas yang dilandasi hati yang murni bersih dan suci. Pemimpin itu ksatria. Demi dan untuk rakyat dan yang dipimpin, segenap yang dimiliki dihibahkan. Apapun rintangan dan resiko dihadapi secara jantan. Bahkan nyawanya pun dipertaruhkan.

Pemimpin itu ayam jago tanah bukan bebek atau burung emprit. Berada di garda terdepan melindungi dan mengayomi rakyat dan yang dipimpin. Bahkan memilih gugur dimedan perang daripada pulang kewirangan kehilangan harkat dan martabat kemanusiaan.

Pemimpin itu bukan penguasa apalagi pecundang. Selalu mendarma baktikan hidupnya hanya untuk dan demi rakyat dan yang dipimpin, bukan untuk kepentingan diri sendiri atau keluarga.

Pemimpin itu untuk semua di atas beragam varian perbedaan rakyat dan yang dipimpin. Tidak diskriminatif. Tidak membedakan asal usul, latar belakang sosial, suku, ras, agama dan golongan.

Pemimpin itu sejatinya adalah wakil Tuhan dimuka bumi untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi segenap mahluk yang ada di alam semesta beserta isinya. Hati pemimpin terjaga kemurnian, kebersihan dan kesuciannya. Selalu bersandar dan bersama Tuhan.

Pemimpin itu diturunkan / Pinilih Tuhan, bukan dicetak atau diproduksi manusia. Pemimpin itu sejati, ksatria, dan adidaya.

Walau memiliki segala kewenangan, pemimpin tidak boleh sewenang-wenang. Tidak akan pernah ada pemimpin tanpa keberadaan rakyat dan yang dipimpin. Pemimpin tidak boleh sewenang-wenang karena masih ada yang membatasi yaitu hukum alam semesta, hukum Sang Maha Pencipta, hukum Tuhan.

Lantas siapa kah pemimpin di negeri? Biarlah hukum alam semesta Tuhan yang menjawabnya. Terjawab melalui kenyataan tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara hari ini, esok dan dimasa mendatang.

Negeri ini penggalan surga Nusantara pilihan Tuhan. Segenap paradoksalitas yang ada saat ini segera berkahir dengan sebuah kebangkitan dari segala arah penjuru dengan segenap sumber daya dan upaya.

Wancine wis tekan. Sumam burat bang bang wetan. Mumpung Padang Rembulane. Mumpung jembar Kalangane. Yo Sorak O Sorak Iyo!!!

Jadilah pemimpin. Jangan jadi penguasa. Jadilah pempin jangan jadi pecundang. Jadilah pemimpin jangan jadi penjajah rakyat sendiri dan yang dipimpin. Jadilah pemimpin sejati, ksatria dan adidaya. Jangan jadi pemimpin yang dhalim Angkara murka. (TYL)

Penulis: Presiden Gumregah Nusantara, dr. Ali Mahsun Atmo M Biomed

BAGIKAN

Komentar