JK Merawat Optimisme Pasca Bom Kampung Melayu

231

FOKUSUTAMA.com – Satu hari sebelum Ramadhan (24/05/17), Indonesia dikagetkan dengan ledakan bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Peristiwa ini mengakibatkan 3 Anggota Polri tewas dalam insiden ini dan 11 orang lainnya mengalami luka-luka.

Pasca kejadian tersebut, publik kembali digegerkan dengan pengakuan dari ISIS terkait aksi bom terbsebut. ISIS dalam keterangan persnya menyebutkan bertanggung jawab atas tindakan tidak bermoral itu.

“Yang melakukan penyerangan terhadap Kepolisian Indonesia di Jakarta adalah pejuang ISIS,” kata kantor berita Amaq dikutip Reuters, Jumat (26/5).

Beragam respon muncul, mulai dari komentar masyarakat, pernyataan Polri, BIN sampai Wakil Presiden.

Menarik menyimak pernyataan Wapres RI M. Jusuf Kalla, yang tidak langsung terjebak dalam serangan opini susulan yang dilancarkan ISIS sebagai pihak bertanggungjawab atas peristiwa Bom Kampung Melayu.

“JK menegaskan, klaim ISIS harus dibuktikan.”

“Hal itu biasa (klaim), ingin memperlihatkan dia (ISIS) itu punya jaringan luas. Tapi belum tentu juga kan (ISIS) karena susah diklarifikasi,” kata Kalla, di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Jumat (26/5/2017.

Pernyataan ini bagi sebagian orang dinilai syarat keragu-raguan Wapres jika pelakunya adalah ISIS. Bahkan lebih dari itu, sejumlah pihak yang menyerap pernyataan JK secara permukaan, menyayangkan karena datangnya dari seorang Wapres ketika semua mata tertuju ke ISIS.

Benarkah JK ragu?

Pernyataan JK sebenarnya sudah tepat. Sebagai seorang Wakil Presiden, JK tahu persis jika mengiyakan ISIS sebagai pelaku pemboman, maka pemerintah akan masuk pada trap of opinion yang digalakan ISIS.

Pimpinan sekelas Wapres, mengiyakan ISIS sebagai pelaku teror di negaranya, itu sama saja dengan mengabarkan pada publik bahwa ISIS ada, tapi pemerintah gagal mencegah dan mengontrolnya. Sehingga memicu sentimen negatif berupa ketukan publik dengan segala konsekuensinya.

JK sudah tepat mengungkapkan jika ia ragu bahwa ISIS sebagai pelaku bom. Adapun penanganannya JK tetap percaya sepenuhnya pada kemampuan kinerja kepolisian. Itulah cara JK menjaga wibawa serta kepercayaan publik pada aparat kepolisian, sehingga tidak dihinggapi rasa takut berlibihan serta tetap percaya kepada kemampuan Polri dalam menangani teror bom di mana pun seperti kasus kasus teror sebelumnya.

Ibaratnya, seorang Menteri Keuangan harus mengatakan kondisi ekonomi Indonesia baik-baik saja, meskipun kenyataannya sedang dalam krisis. Ini dilakukan untuk memproteksi sentimen psikologis pasar dan ekonomi dalam negeri. Sebab jika tidak, pelaku pasar bisa saja panik, rupiah melemah dan pemilik modal jadi ragu berinvestasi di Indonesia.

Pernyataan JK persis seperti itu. JK sebagai sosok negarawan juga tokoh pendamai konflik tentu sangat paham bagaimana merawat optimisme dan stabilitas nasional pasca serangan teror seperti di Kampung Melayu.

Hal ini dilakukan JK guna melindungi bangsa ini dari perangkap opini ISIS. JK tidak mau bangsa ini menjadi latah sehingga akhirnya membuat ISIS semakin mudah masuk ke tanah air ini serta secara pongah mengklaim wilayah kedaulatan kita sebagai daerah taklukannya. Bahkan investor pun jadi berpikir menanamkan modal, betapa ruginya bangsa ini kehilangan kepercayaan yang sangat dibutuhkan agar Indonesia tetap menjadi lahan investasi yang menarik bagi pemodal dalam dan luar negeri.

JK berpandangan jika kita percaya pada klaim yang dilakukan oleh ISIS, itu sama artinya membuat jangkauan dan jaringan ISIS semakin luas. Itu sama saja ikut dalam membesarkan nama ISIS sendiri.

Apapun tafsirnya yang paling utama aksi jahat bom Kampung Melayu segera diselesaikan oleh aparat kepolisian. Kehadiran Jokowi-JK di lokasi kejadian, isyarat kalau Indonesia sudah berada di jalur yang benar dalam menangani aksi terorisme. Membangun semangat kebersamaan dan optimisme.

Dede Kurniawan

(Peneliti Madjid Politika)

BAGIKAN

Komentar