Jelang Pilkada Serentak, Mahasiswa Kabupaten Serang Tolak Dinasti Politik

139

Serang – Sejumlah elemen aktivis mahasiswa di Kabupaten Serang mengajak kepada seluruh kaum terpelajar se-Kabupaten Serang untuk melawan dengan tidak lagi memilih dinasti politik pada pemilihan Bupati dan wakil Bupati Serang yang akan digelar pada tahun 2020 ini.

Mereka menilai, selama itu terjadi, maka Kabupaten Serang akan lamban mengalami kemajuan, karena dinasti politik menurut mereka, cenderung hanya akan mengutamakan kepentingan kelompok tertentu daripada kepentingan masyarakat.

Wakil Sekertaris Bidang (Wasekbid) Eksternal Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jabodetabeka Banten Aliga Abdillah mengatakan, tingginya angka pengangguran di Kabupaten Serang, menjadi sebuah bukti bahwa daerah yang dipimpin oleh klan dinasti Ratu Atut Chosiyah tidak maju dan berkembang secara menyeluruh.

“Tingginya angka pengagguran menunjukan betapa kerdilnya inovasi penguasa hari ini dalam mengentaskan permaslahan tersebut. Permasalahan pengangguran tidak melulu mengenai minimnya pendapatan daerah tapi juga berbicara masalah ide dan gagasan pemimpin yang mesti diuji dan dikuliti,” katanya saat menggelar mimbar bebas di Kampus Staikha Kubang Petir, Kamis 27/2/2020.

“Permasalahan pengangguran tidak melulu mengenai minimnya pendapatan daerah, tetapi juga berbicara masalah ide dan gagasan pemimpin yang mesti diuji dan dikuliti. Dan tak kalah lebih hebatnya ialah soal Puspemkab baru yang digadang-gadang 10 tahun silam masih mangkrak,” imbuhnya.

Mereka, kata Aliga, sudah cukup jenuh melihat kondisi itu, dari tahun ke tahun pemilihan kepala daerah menurutnya tidak pernah lepas dari lingkaran keluarga dinasti Atut yang kian hari kian abai dan kontra terhadap kepentingan rakyat.

“Ada bahaya laten yang menjangkiti Kabupaten Serang, dimana kami melihat ada upaya tersendiri dari penguasa dalam proses melanggengkan kekuasaan sepertinya halnya kita lihat pembagian ambulance yang membranding habis salah satu sosok dimana masa kampanye sebetulnya belum dimulai. kolaborasi antara kekuatan politik dan pengusaha pun tak kalah hebat, kita lihat bagaimana proses pengadaan kalender di setiap OPD Kabupaten Serang, yang pada akhirnya hanya menimbulkan praktik rent seeking,” paparnya.

Atas banyaknya permasalahan yang menjangkiti Kabupaten Serang itulah, lanjut Aliga, menjadi dasar bagi mereka untuk mengajak masyarakat agar tidak lagi memilih keluarga dinasti.

“Kita sebagai rakyat tidak boleh lengah sedikitpun. Sehingga segala sumberdaya yang dimiliki oleh kabupaten serang tidak hanya di organisir oleh segelintir orang, dan tidak hanya dikuasai oleh golongan atau keluarga tertentu. Sudah saatnya kita sebagai kalangan yang terpelajar mengatakan tidak pada klan Atut-Wawan. Jangan biarkan mereka masih berada di dalam lingkaran politik.” tukasnya. (TYL)

BAGIKAN

Komentar