Instruktur, Jalan Suci yang Sunyi di HMI

73
Nur Cahyono, Ketum BPL PB HMI

Jakarta, FOKUSUTAMA.COM- Oleh: Nur Cahyono, Ketua Umum Badan Pengelola Latihan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (BPL PB HMI) Periode 2018-2020

Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam (BPL HMI) merupakan badan khusus yang ada di HMI. Ia mencurahkan konsentrasi pemikiran pada pengembangan kualitas para pengelola latihan, kemampuan konsepsi maupun manajerial. Sebagai seorang yang diamanahkan menjadi pengurus atau anggota BPL, tentu bukan perkara mudah, bila dilihat dari tugas dan wewenang BPL (lihat di Pedoman Dasar BPL HMI Pasal 4 dan 5) sangat erat sekali kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Dalam pengembangan SDM, pendidikan HMI dikenal dengan istilah Latihan Kader (LK). LK pada hakikatnya merupakan bentuk perkaderan HMI yang berorientasi pada pembentukan watak, pola pikir, visi, orientasi serta berwawasan ke-HMI-an yang paling elementer. Kedudukan dan peranan latihan ini adalah untuk meletakan fundamen bagi setiap kader HMI yang dituntut siap mengemban amanah dan tanggung jawab untuk membangun bangsa Indonesia di masa depan (selengkapnya lihat di Pendahuluan PD BPL HMI).

HMI sebagai organisasi kader, maka dalam pelaksanaan berada dalam proses yang berkesinambungan dalam setiap jenis dan jenjang, semuanya saling berkaitan dalam suatu sistem perkaderan yang integral. Pada saat proses belajar mengajar ada dua unsur penting yakni guru/pembimbing dalam HMI dikenal dengan Master of Training (MOT) atau instruktur dan peserta. Seperti diketahui, MOT adalah orang yang memiliki mandat untuk memimpin, mengelola pelatihan dan bertanggung jawab atas terlaksananya sebuah pelatihan. Sementara instruktur adalah orang yang memiliki kualifikasi untuk menyampaikan materi (glosarium).

Dalam sebuah pelatihan ada input dan output, tentu untuk menghasilkan output yang berkualitas tak lepas dari peranan MOT dan instruktur. Mereka memperkenalkan dan mengajarkan ilmu tentang Islam, ideologi, dan perjuangan yang merupakan nafas dari HMI. Menjadi seorang pengelola latihan hendaklah selalu mengasah potensi diri baik dari keilmuan, spiritual dan moral, tak hanya itu, pengelola pelatihan juga selalu berusaha mengikuti perkembangan keanggotaan anggota dan ikut serta dalam usaha meningkatkan kualitas anggota tersebut (Kode Etik Pengelolaan Latihan).

Al-Ghazali mengatakan, kewajiban seorang guru adalah mengembangkan rasa hormat terhadap ilmu-ilmu di luar ilmu yang ditekuninya. Selain itu, guru juga menanamkan pada muridnya rasa hormat terhadap semua cabang ilmu, dan mempersiapkan mereka untuk mendalami sebanyak mungkin pengetahuan (Prof. Dr. Hasan Asari, MA; Nukilan Pemikiran Islam Klasik: Gagasan Pendidikan Abu Hamid Al-Ghazali).

Kewajiban seorang guru adalah mengenali sebaik mungkin latar belakang pengetahuan muridnya dalam bidang kajian tertentu, sehingga dia bisa menentukan level pengetahuan yang cocok untuknya. Sementara itu, Al-Ghazali nenekankan bahwa seorang guru harus memastikan muridnya tidak terlibat dalam kajian yang terlalu sulit sebelum menguasai pengetahuan yang lebih mudah, jika tidak, kajiannya bisa saja menyesatkan murid, lebih jauh, guru sebaiknya berusaha mengetahui niat muridnya dalam belajar, kalau misalnya diketahui bahwa seorang murid belajar dengan tujuan yang tidak religius, maka harus diteliti apakah dia lebih tertarik pada ilmu-ilmu yang mahmudah atau malah pada yang madzmumah, kemudian sang guru harus membimbing dan mengarahkan murid-muridnya agar cenderung kepada ilmu-ilmu yang baik, jika seorang murid ingin mempelajari ilmu-ilmu agama namun, untuk tujuan material, Al-Ghazali berpandangan bahwa murid semacam ini akan dapat diarahkan secara perlahan-lahan, hingga menyadari bahwa tujuannya keliru (Prof. Dr. Hasan Asari, MA; Nukilan Pemikiran Islam Klasik: Gagasan Pendidikan Abu Hamid Al-Ghazali).

Sementara itu, pengelola latihan juga harus menjaga etika dan moral saat proses pelatihan berlangsung. Setiap pelatihan HMI, yang menjadi tanggung jawab pengelola latihan tidak hanya kepada peserta, namun ada tanggung jawab lainnya seperti kepada panitia, pembicara, senior, bahkan sampai kepada kalangan masyarakat sekitar tempat terlaksananya pelatihan. Namun hal itu seakan luput pada diri pengelola latihan. Ia hanya memfokuskan diri kepada peserta. Seperti dijelaskan dalam buku Prof. Dr. Hasan Asari, MA yang berjudul Nukilan Pemikiran Islam Klasik: Gagasan Pendidikan Abu Hamid Al-Ghazali, Al Ghazali meletakkan standar yang sangat tinggi bagi guru, dan menekankan bahwa kesalahan yang dilakukan guru akan berakibat negatif bagi murid-muridnya. Dia mengilustrasikan hal ini dengan analogi tongkat dan bayangannya, sembari bertanya: bagaimana mungkin bayangan dapat lurus, kalau tongkatnya sendiri bengkok? Dia juga menegaskan bahwa kekeliruan tingkah laku guru berakibat sangat besar tidak saja terhadap integritas guru itu sendiri, tetapi juga potensial berpengaruh terhadap banyak orang yang mengikutinya sebagai model.

Posisi guru sebagai model (uswah) tentu saja bukanlah merupakan invensi Al-Ghazali sendiri, jelas bahwa ajaran ini merujuk pada posisi Rasulullah saw. sebagai contoh tauladan yang baik (uswah hasanah) sebagaimana ditekankan dalam kitab suci Al-Qur’an. Semoga kita bisa selalu mengamalkan dalam kehidupan nyata. (TYL)

Komentar