Idul Fitri, Kembali Kepada Fitrah Kemanusiaan

210
Arief Wicaksana, Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Jabodetabeka-Banten

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Sudah banyak sekali para profesor, doktor, dan ahli dalam bidang agama yang membahas tentang hikmah dalam bulan suci Ramadhan. Di sini saya juga ingin menjelaskan hal yang sama. Meski saya bukan seorang pemikir, yang tertarik menulis dalam lembaran-lembaran tebal. Meski saya bukan seorang Ulama yang sanggup melahirkan karya-karya besar. Saya hanya seorang yang “awam,” yang ingin membagikan ketidaktahuan saya kepada para pembaca. Dengan cara seperti itu, saya bisa belajar lebih baik. Serta mengamalkan hadis Nabi Saw. “Tuntutlah ilmu hingga liang lahat.”

Tak terasa telah sebulan kita menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Kita menahan lapar dan haus dari terbitnya fajar hingga terbenanmnya matahari. Umat muslim dituntut untuk menahan hawa nafsu dan mampu menjaga diri dari hal-hal yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala dalam ibadah puasa.

Dalam bukunya yang berjudul Madrasah Ruhaniah, Jalaluddin Rakhmat menjelaskan, puasa tidak hanya diajarkan dalam agama Islam saja, tetapi setiap agama seperti Yahudi, Nasrani, bahkan agama-agama lainnya. Bagi saya agama itu semuanya berasal dari Allah. Karena campur tangan manusia sehingga agama terbagi dua istilah: ada agama samawi dan agama thabi’i. Agama samawi adalah agama yang turun dari langit, seperti agama Yahudi, Nasrani, dan Islam. Sedangkan agama thabi’i adalah  agama yang lahir secara alamiah, seperti: Hindu, Buddha, Shinto, Konghucu.

Karena seluruh agama pada dasarnya turun dari Allah, itulah sebabnya agama-agama menganjurkan para pemeluknya untuk menjalankan ibadah puasa. Meski secara syariat berbeda-beda. Pertanyaan berikutnya, mengapa Allah mensyariatkan agama-agama untuk berpuasa? Pertama, puasa itu dapat mendekatkan diri kita menuju Allah. Kedua, agama dapat memenuhi yang namanya “kebutuhan spiritual” bagi para pemeluknya.

Sebelum jauh menjelaskan tentang hikmah berpuasa, saya mencoba menjelaskan arti puasa. Puasa secara bahasa adalah aktivitas menahan, sedangkan dalam konteks hukum, puasa merupakan aktivitas menahan diri dari makan, minum, serta segala sesuatu yang dapat membatalkannya. Dalam konteks fiqih asal orang yang sedang berpuasa itu tidak makan dan minum, tidak junub dalam waktu yang ditentukan, maka puasanya sah.

Tapi di sini saya tidak terlalu menjelaskan secara detail dari sudut pandang fiqih. Menurut Murthada Muthahari, salah satu tahap dalam wilayah atau kewalian seseorang adalah ketika seseorang itu dapat menjaga atau mengendalikan hawa nafsunya. Saya pernah menyaksikan ada seseorang yang seharusnya dia marah tapi dia tidak marah, yang seharusnya dia membalas ketika dicurangi tapi dia tidak membalasnya, ketika banyak orang menjelekkan dirinya tapi dia tidak sakit hati. Dan selalu menunjukkan sikap yang seakan-akan tidak terjadi masalah oleh orang disekelilingnya. Hawa nafsunya sudah bisa dikendalikan. Saya pernah menanyakan kenapa Anda tidak marah ketika Anda diperlakukan seperti itu? Dengan sederhananya dan sangat menyentuh hati saya, Ia menjawab “Rasulullah saja tantangannya lebih berat ketika menyebarkan ajaran Islam. Dia diludahi, dia dicaci maki, dipukuli, dianggap orang gila, tapi apakah Rasulullah marah? Tidak. Malah Rasulullah memberikan makanan kepada orang buta yang selalu menghinanya, Ia selalu menunjukkan kasihnya kepada orang-orang yang telah berbuat zholim. Dan yang lebih indahnya adalah Rasul selalu mendoakan orang-orang yang sengaja mencelakainya.”

Nabi Muhammad bersabda, “Semua amal anak Adam dilipatgandakan. Kebaikan dilipatgandakan sepuluh sampai seratus kali, kecuali puasa, kata Tuhan. Puasa untuk Aku, dan Aku yang akan memberikan pahalanya. Orang yang berpuasa meninggalkan keinginannya dan makanannya karena Aku. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan berjumpa dengan Tuhannya” (Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis itu hakikat puasa menurut Nabi Saw. adalah meninggalkan keinginannya untuk menjalankan perintah Tuhan; menanggalkan kehendak diri dan menjalankan kehendak Ilahi.

Setelah sebulan kita berusaha mendekatkan diri kepada-Nya, setelah kita mengurangi makan dan tidur untuk mentaati petunjuk Allah, kita akan diuji sampai Ramadhan yang akan datang. Apakah kita masih bisa tersenyum saat orang lain menyakiti kita, tidak iri hati melihat tetangganya bergelimang harta, tidak sakit hati saat kita dihina. Apakah kita rela suatu waktu kita ditinggal oleh sahabat, jabatan, dan harta yang kita miliki? Apakah akan selamanya kita menjadi binatang yang dengan buas memakan musuhnya. Bila kita pedagang, kita bangga kalau bisa meraup untung yang besar dengan cara menipu. Jika kita jadi atasan, kita senantiasa merampas hak pegawai, memungut hasil keringat mereka. Bila kita jadi bawahan, kita tidak ragu menggadaikan keimanan kita hanya untuk sesuap nasi, bila kita menjadi pejabat, kita bangga kalau melihat oranglain kesusahan, keadilan sudah tidak ada lagi, korupsi merajalela.

Kini, saatnya kita menjadi seorang yang Inna lillahi wa inna ilahi rojiun. Arti idul fitri adalah kembali kepada fitrah kemanusiaan, yaitu “kesucian.” Seluruh rangkaian ibadah di bulan suci adalah untuk mengembalikan kemanusiaan kita. Dalam shalat kita selalu mengingat kebesaran Allah. Dalam puasa kita dituntut untuk menurunkan ego manusia, dan menahan hawa nafsu kita. Dalam zakat kita menunjukkan sosial kita kepada sesama manusia. Dalam haji menurut Ali Syariati, untuk mengarahkan hidup kita berpusat hanya kepada Allah. Itulah makna idul fitri, kembali kepada fitrah kemanusiaan (Jalaluddin Rakhmat: Membuka Tirai Kegaiban). (NC)

Oleh: Arief Wicaksana (Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Jabodetabeka-Banten)

BAGIKAN

Komentar