JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Tradisi khidmat sudah sejak lama dipraktikkan oleh manusia. Ada berbagai macam-macam khidmat. Ada khidmat ke sesama manusia, khidmat kepada alam, dan khidmat kepada Allah Swt.

Di sini penulis akan membahas khidmat ke sesama manusia. Khidmat artinya hormat, takzim, khusyuk (KBBI). Menurut al-Ghazali, khidmat adalah fana dari memandang ibadatnya dan memandang ibadat yang diperbuatnya dapat terlaksana semata-mata berkat izin dan anugerah Allah Swt. kepadanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kejadian yang memperlihatkan kepada kita tentang khidmat ke sesama manusia. Seperti ada seorang murid yang mengikuti pengajian kepada seorang kiai, ia lebih banyak berbakti kepada kiainya dengan cara membersihkan ruangan pengajian sebelum dan sesudah pengajian dibanding mengikuti pelajaran yang disampaikan kiai tersebut. Dan orang tersebut berhasil di perkuliahannya dengan nilai tertinggi daripada teman-temannya se-pengajian tersebut.

Dikisahkan ada seorang murid yang setia dengan gurunya. Kemanapun gurunya memerintahkan, dengan bahagia si murid selalu mengerjakannya tanpa mesti meminta penjelasan lebih lanjut. Dan akhirnya si murid itu bisa berhasil.

Cerita-cerita diatas menunjukkan kepada kita bahwa mereka yang lebih banyak berkhidmat kepada gurunya daripada belajar, ternyata memperoleh ilmu yang luar biasa dan pengetahuan yang tinggi.

Jalaluddin Rakhmat menjelaskan, dalam tasawuf, khidmat memiliki beberapa fungsi. Pertama adalah untuk menurunkan ego kita. Untuk mengalahkan upaya kita yang selalu mementingkan diri sendiri. Kita mempunyai kecenderungan ingin dikhidmati.

Kedua adalah untuk meruntuhkan kesombongan kepada sesama manusia. Orang yang tidak mau berkhidmat, dan hanya mau dikhidmati orang lain, pasti orang itu sombong. Mari kita hancurkan sifat kesombongan diri kita dengan khidmat.

Ketiga, dengan berkhidmat kita belajar mencintai. Imam Ali Zainal pernah berdoa, “Ya Allah, aku memohon agar aku bisa mencintai-Mu dan mencintai orang-orang yang mencitai-Mu.”

Dalam doa Imam Ali Zainal pun ia belajar untuk bisa mencintai orang-orang yang cinta kepada-Nya.

Tasawuf adalah ilmu untuk belajar mencintai Tuhan. Sebelum mencintai Tuhan yang terlalu abstrak, belajarlah mencintai hamba-hamba Tuhan.

Abu Sha’id Abu al-Khair berkata, “Jalan mendekati Tuhan sebanyak bilangan napas para pencari Tuhan. Tetapi jalan yang paling dekat kepada Allah Swt. adalah membahagiakan orang disekitarmu. Berkhidmatlah kalian kepada mereka.”

Pada hari kiamat nanti, dalam hadis qudsi, Allah akan berkata kepada hamba-hambanya, “Hai hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar, engkau tidak memberi makan pada-Ku. Dahulu Aku sakit, engkau tidak menjenguk-Ku. Dahulu Aku telanjang, engkau tidak memberikan pakaian untuk-Ku. Kemudian hamba-hamba-Nya bertanya, “Tuhan, bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?” Tuhan menjawab, “Dahulu ada hamba-Ku yang sakit, sekiranya kau jenguk dia, engkau akan temukan Aku disitu. Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, sekiranya engkau berikan makanan kepada dia, kau akan temukan Aku disitu. Dahulu ada hamba-Ku yang telanjang, sekiranya kau berikan pakaian, engkau akan temukan Aku disitu.”

Hal inilah yang membuat Ibn Arabi menjadikan pembahasan yang lengkap dalam kitabnya Al-Futuhat Al-Makkiyyah. Dalam pembahasan tentang Tuhan ia menyebutkan bahwa kita bisa menemukan Tuhan dalam perkhidmatan kepada sesama hamba-Nya.

Semoga diri kita selalu bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada. Hikmah bisa diambil dari siapapun. Bahkan dari orang gila sekali pun. Karena manusia senantiasa mengaplikatifkan ilmu yang dimilikinya.

Janganlah menjadi manusia yang mementingkan “man qala” daripada “ma qala”. Jadi lebih mementingkan “siapa yang ngomong, bukan apa yang diomongkan.” (YJ)

Penulis: Arief Wicaksana

Komentar