JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Sebelum memulai tulisan ini, saya menganggap pembaca sudah mengetahui sosok filosof dan sufi muslim terbesar Ibnu Arabi. Sehingga, beberapa garis besar pokok pikirannya sudah tergambar oleh pembaca. Sehingga, dalam kepala penulis dan pembaca sudah terjalin satu frekuensi tentang pemikirannya.
Tulisan ini sebenarnya hanya ingin memberikan pembanding postingan seseorang di media sosial Facebook. Karena, melalui postingan tersebut akhirnya saya bisa mengorek-ngorek pemikiran Ibnu Arabi berkaitan dengan tafsir Alquran. Persoalannya adalah seseorang memposting soal terjemahan surat An-Naba ayat 33, dalam surat itu redaksinya tertulis wa kawa’iba atraabaa dan jika diterjemahkan “gadis-gadis remaja yang sebaya”. Ayat itu mencoba menjelaskan persoalan surga dan penghuni surga. Menurut Alquran penghuni surga akan disuguhi salah satunya dengan yang dimaksud dengan An-Naba ayat 33 itu.
Beranjak dari situ, saya tiba-tiba teringat sosok Ibnu Arabi yang dikenal sebagai filosof dan juga sufi. Ia juga dikenal dengan panggilan Syaikh Akbar (guru utama). Mungkin pembaca tulisan ini akrab dengan kalimat wahdatul wujud. Namun itu persoalan lain, wahdatul wujud hanya satu dari berbagai buah pikirannya .
Salah satu yang menjadi pokok pemikiran Ibnu Arabi yang bisa menjadi bantahan postingan kalangan lahiriyah atau zahiriyah (istilah Ibnu Arabi) adalah terkait bahasa dan simbolisme. Bahasa dan simbolisme merupakan buah pikir Ibn Arabi dalam usahanya menjangkau maksud dari setiap ayat-ayat dalam Alquran. Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Three Muslim sages: Avicenna, Suhrawardi, Ibn ‘Arabi, Bahasa dalam pandangan Ibn ‘Arabi, meskipun terkadang abstrak, pada dasarnya merupakan sebuah simbol. Ia memanfaatkan segala bentuk simbolisme mulai dari puisi hingga geometris dan matematis. Prinsip itu ada dalam penggunaan simbol-simbol dan menjadi satu dasar bagi Ibnu Arabi. Hal inilah yang dikatakan oleh Ibn ‘Arabi merupakan sesuatu yang fundamental yang disebut ta’wil. Sementara ta’wil secara harfiah berarti mengembalikan sesuatu kepada asalnya atau awal.
Dengan kata lain, Ibnu Arabi mencoba menyelami kedalaman setiap kata dalam bahasa Arab ada di Alquran yang juga memiliki kekuatan. Pada akhirnya, Ibnu Arabi mampu menangkap makna setiap kata yang ada dalam Alquran secara mendalam (batin) sekaligus radikal. Tak heran jika tafsir yang dibuatnya sangat sukar dipahami. Apalagi bagi mereka yang belum mendalami filsafat Islam. Dari sini, masih soal kata yang dipahami kalangan lahiriyah, dalam surat An-Naba 33 disebutkan dalam Alquran yang artinya adalah “dan gadis-gadis remaja yang sebaya”. Apalagi jika ayat itu ditafsir dari sisi sejumlah riwayat dan hadits, maka akan ditemukan berbagai kata-kata tak senonoh yang cenderung kotor.
Sebagai background, sebelumnya dalam ayat itu ingin menggambarkan berbagai kenikmatan yang didapat seorang yang beriman kelak di surga. Salah satu kenikmatan itu adalah “dan gadis-gadis remaja yang sebaya”. Ketika bahasa Alquran coba dimaknai secara lahiriyah dalam ayat itu, kejanggalan akan kental terasa, namun ketika ayat itu dimaknai secara batiniyah, tentu terbebas dari hal-hal yang sifatnya “tampak”, tabu, kesan porno, atau cenderung kotor.
Dalam pandangan Ibnu Arabi, terutama dalam menafsir Alquran, ia menafsirkan (ta’wil) kata Kawa’ib sebagai min suwar al-atsar al-asma fi jannah al- af’aal (kitab tafsir Ibnu Arabi), artinya konsep (gambaran/pemahaman) tentang kemuliaan nama-nama (sifat) Allah yang ada di surga -afaal.
Agak rumit memahaminya. Namun penulis mencoba membahas seperlunya. Tentunya, seseorang tak memahami apa yang ditafsirkan Ibnu Arabi itu hanya berpedoman kepada kitab tafsirnya itu tanpa memahami pemikiran-pemikirannya yang lain. Ibnu Arabi berpendapat bahwa Allah (secara dzat) memanifestasi ke dalam diri manusia melalui sifat-sifatnya (Asma Dzat, Asma Sifat, dan Asma Af’aal). Itu yang kemudian dikatakan Qaisari – seorang komentator terbaik untuk karya Ibnu Arabi – terutama dalam Syarah Fhusus Al-Hikam karya ibnu Arabi. Dalam pandangan Ibnu Arabi – seperti filosof lainnya-, manusia dijadikan oleh Allah di muka bumi (alam semesta) dengan dibekali potensi (daya).
Dan itulah kemudian manusia dianggap mampu oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Allah itu sendiri dalam arti di luar wujud sebagaimana dirinya wujud memanefestasi ke dalam Asma Dzat, Sifat, dan Af’al. Dalam konteks ayat ini Ibnu Arabi menekankan manifestasi Allah kepada asma af’al, yaitu nama-nama Allah yang termanifestasi dari perilaku ataupun perbuatan Allah. Af’al Allah bisa dimaknai perbuatan Allah. Hal itu merujuk kepada segala yang ada di dunia ini termasuk manusia adalah Af’al (perbuatan) Allah. Keberadaan bumi, langit, manusia, malaikat, jin, surga, neraka dan merupakan af’al Allah yang telah termanifestasi. Termasuk perilaku manusia merupakan manifestasi dari perilaku Allah.
Bisa digambarkan, ketika seorang manusia sedang memiliki kekayaan misalnya maka sifat Allah yaitu Ar-Razzaaq sedang memanifestasi ke dalam dirinya dan menjadi yang tampak secara lahiriyah, sementara sifat-sifat yang lainnya sedang disembunyikan, demikian yang dijelaskan Dawud Qaisary dalam mukadimah kitab Syarah Fhushus Al-Hikam Ibnu Arabi. Kesempurnaan nama-nama Allah itulah yang kemudian memanifestasi ke dalam diri manusia menjadi daya (potensi).
Para filosof berpandangan manusia memiliki potensi akal (berpikir) dan potensi gerak (af’aal). Hal ini yang kemudian disebut dengan jiwa. Filosof lain seperti Al-Farabi misalnya yang kemudian pemikirannya dianut oleh Ibnu Arabi, membagi akal menjadi akal praktis (af’aal) dan teoritis (berpikir). Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Akal praktis memiliki daya menyimpulkan apa yang mesti dikerjakan oleh seseorang. Sedangkan akal teoritis berfungsi mengkonsep sesuatu sebelum akal praktis.
Akal teoritis inilah yang kemudian mengkonsep sebuah pengetahuan dalam pikiran seseorang, apakah itu akan menjadi kehendak atau keinginan. Kehendak biasanya akan merujuk kepada sesuatu yang fitri (badihi) yang berujung kepada kesempurnaan (jiwa). Sementara keinginan akan merujuk pada hal-hal yang bersifat lahiriyah dan indrawi. Keinginan pula yang cenderung kepada pemenuhan hasrat lahir dan jasmani seseorang.
Kembali lagi kepada kata kawa’ib (gadis-gadis remaja), yang dimaksud dalam surat An-Naba 33 menurut Ibnu Arabi adalah simbol terhadap daya praktis (af’aal) seseorang (min suwar al-atsar al-asma fi jannah al- af’aal). Artinya maksud surat itu adalah ketika seseorang mampu mengarahkan daya teoritisnya sehingga daya praktisnya tidak mengikuti keinginan jasmani maka seseorang itu layak mendapat kawa’ib di surga af’al.
Dalam arti lain hanya jiwa-jiwa yang tunduk kepada kehendak dan menghilangkan kenikmatan jasmani adalah jiwa sempurna yang dapat kembali kepada kenikmatan af’aal Allah. Hal itu tentunya jika seseorang mampu mengendalikan keinginan dan mengarahkan kepada kehendak untuk tidak terlena dengan kenikmatan jasmani maka ia sudah menuju kesempurnaan jiwa dan di surga akan mendapatkan kawa’ib.
Allah membuat simbol gadis-gadis remaja sebagai sebuah keinginan dan syahwat. Tidak bisa ditolak, jika seseorang laki-laki melihat gadis seusia (apalagi cantik dan seksi) hasrat dan keinginan (syahwat) seksual akan muncul, dan hasrat seperti secara potensi (ingin) dimiliki oleh setiap manusia. Baik itu lelaki ataupun perempuan.
Syahwat sendiri merupakan sebuah konsep pikir yang ada di alam akal tentang suatu keinginan, nafsu, dan hasrat tentang sesuatu. Maka mustahil jika kemudian kawa’ib memiliki arti yang sebenarnya sebagai gadis-gadis remaja di surga nanti. Daya-daya inilah yang kemudian akan ditampakkan oleh Allah kelak, jika manusia mampu mengendalikan akal praktis dan teoritisnya terhadap apa yang dilarang.
Syahwat dapat saya gambarnya bandingannya seperti cantik dan tampan. Keduanya apakah memang benar-benar ada, atau hanya sebuah konsep pikir. Di sini patut ditekankan bahwa Allah sama sekali tidak menciptakan manusia yang cantik ataupun tampan. Keduanya lahir dari ketiadaan. Hal itu bisa dibuktikan, jika dalam satu pulau terdapat satu wanita dan 10 lelaki, tentunya wanita tersebut paling cantik, kemudian jika wanita tersebut bertambah satu lagi, kualitas wanita akan secara otomatis muncul. Salah satunya akan disebut lebih dari lainyya untuk melemahkan yang lain.
Selanjutnya, menurut Ibnu Arabi inilah yang kemudian pada akhirnya manusia akan menempati surga af’aal, bisa juga diartikan surga yang berkaitan dengan keagungan sifat-sifat af’aal Allah yang termanifestasi dari Dzat-Nya. Jadi, kalau gadis remaja dalam surat An-Naba 33 dimaknai sesuatu yang lahiriyah kurang tepat karena di surga tak ada materi. Materi, jasmani dan indrawi hanyalah ada di alam realitas eksternal yang cenderung kompleks, tidak sederhana, musnah, dan partikular. Mengutip kembali petikan karya Ibnu Arabi dalam kitab Futuhat Al-Makiyah dalam bab Rahasia Bersuci halaman 738.
“Maka kebahagiaan adalah milik golongan orang-orang yang mampu menggabungkan lahiriyah dan batiniyah.”
Penulis: Kirin Sakir
BAGIKAN

Komentar