Gambar Ilustrasi (Source Jakarta Rakyat)

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Dewasa ini penurunan karakter anak didik sudah sangat memperihatinkan. Terutama para anak didik yang masih berada disekolah (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP). Prilaku-prilaku menyimpang sudah sangat sering terjadi yang pelakunya tidak lain dalah generasi muda yang masih di usia dini. Kasus-kasus asusila seperti tindakan pornografi, pemakaian narkoba, dll, sudah dipertontonkan oleh para siswa di nergeri ini bahkan siswa pada tingkat SD sudah terlibat dalam kasus-kasus tersebut. Serangkaian program pembinaan karakter siswa juga sudah dicanangkan oleh pemerintah namun permasalahan kerakter ini masih belum menemukan solusinya. Yang terbaru program pemerintah dalam mengatasai hal tersebut ialah Full Day School (FDS).

FDS yang digarap oleh Kementerian Pendidikan RI adalah program pembinaan karakter dengan menambah jam kegiatan belajar mengajar di sekolah hingga pukul 16:00 yang sebelumnya hanya sampai pada siang hari. Penambahan ini dimaksudkan agar para siswa tidak berprilaku liar diluar sekolah karena saat sekembalinya siswa di rumah, para orang tua juga telah berada di rumah sepulang dari pekerjaan mereka.

Namun FDS ini menuai banyak penolakan diberbagai kalangan bahkan para orang tua juga banyak yang tidak setuju dengan program ini. Terutama sekolah-sekolah yang ada di daerah-daerah. Bagaimana tidak, rutinitas siswa sepulang dari sekolah adalah ngaji sore di TPA atau madrasah. Karena bagi para orang tua asupan pembelajaran agama tidaklah cukup hanya di sekolah saja. Maka dengan adanya pemberlakuan program FDS ini dapat mengahapus rutinitas tersebut. Hal ini yang menjadi penolakan keras dari para orang tua dan masyarkat.

Perlu diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia ngaji sore adalah pendidikan diluar sekolah yang sudah puluhan tahun lamanya menjadi rutinitas generasi anak didik kita. Bisa dikatan ngaji sore sudah menjadi rutinitas kebangsaan. Bayangkan kalau budaya yang arif serta sudah menjadi karakter khas anak bangsa ini hilang maka sama halnya kita menghilangkan budaya karakter anak bangsa. Pemebenahan karakter anak didik melalui penambahan jam belajar bukanlah hal yang solutif tetapi bentuk kesalahan berfikir.

“Bobroknya karakter anak didik bukan terletak pada kurangnya jam belajar namun pada pola pendidikannya. Maka Full Day School tidak ada hubungannya terhadap solusi dari permasalahan karakter anak didik.”

Penambahan jam belajar akan berdampak buruk pada psikis anak karena ada pemaksaan fisik diluar kemampuan mereka. Bukannya memperbaiki karakter anak didik melainkan FDS bisa menjadi Full Dead Student yakni membunuh karakter diri terutama akhlak dari anak didik. Mengenai pembinaan kerakter dalam pendidikan itu sudah tertuang dalam undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian di pertegas dalam Undang-Undang Nomor 141 tahun 2005 tentang penjelasan sistem pendidikan nasional (sisdiknas) pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bobroknya karakter anak didik bukan terletak pada kurangnya jam belajar namun pada pola pendidikannya. Maka Full Day School tidak ada hubungannya terhadap solusi dari permasalahan karakter anak didik. Pemerintah seharusnya mencanangkan program sesuai dengan nafas undang-undang tersebut. Pendidikan itu bertujuan untuk membentuk karakter seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ngaji sore sangat efektif untuk menjadi solusi permasalahan karakter anak didik. Di ngaji sore selain belajar agama anak didik juga belajar bagaimana berprilaku sosial dengan baik. Kerena di ngaji sore siswa dari berbagai sekolah berbeda betemu dan belajar bersama. Secara tidak langsung anak didik sudah menjalin hubungan sosial dan mencegah mereka karakter-karakter apatis dan sifat individulisme sejak usia dini. Melihat hal tersebut pemerintah seharusnya melakukan penguatan kelembagaan termasuk kesejahteraan tenaga didik lembaga pendidikan ngaji sore seperti TPA, madrasah dan lain sejenisnya. Ngaji sore sudah menjadi kegiatan siswa setelah jam belajar sekolah usai. Bila diperhatikan
kegiatan ngaji sore tidak hanya berada di satu atau dua daerah melainkan dilakukan disetiap daerah dari sabang sampai merauke. Ngaji sore sudah menjadi ciri khas anak bangsa kita. Hal ini perlu diperhatikan khusus agar ngaji sore masuk pada pendidikan level nasional.

AL GHAZALI MUSA'AD SEKJEND PB AMI
AL GHAZALI MUSA’AD
SEKJEND PB AMI

Komentar