Forum Aktivis Peduli Perbankan: Nasib Bank Banten Akibat Kredit Macet dan Bermasalah

408

Tangerang,- Forum Aktivis Peduli Perbankan (FAPP) menggelar diskusi online dengan tema “Nasib Bank Banten Akibat Kredit Macet dan Bermasalah,” pada Jumat (01/05/2020), pukul 15.00-17.00 WIB. Dalam diskusi itu turut dihadiri perwakilan dari Forum Indonesia Muda Cerdas (FIMC) Asep dan Pemerhati Perbankan Tiba Yuda sebagai narasumber.

Pada diskusi itu, Asep mengatakan, Bank Banten ini mengalami “sakit parah” karena atas dasar rekayasa. Kredit macet dan bermasalah yang pada akhirnya merugi kurang lebih Rp 188 Milyar dari sekitar 31 perusahaan itu yang harus kita telusuri, karena angka itu muncul dari kredit yang bermasalah dan di salurkan saat sudah menjadi Bank Banten”.

“Dilaksanakannya RUPSLB waktu Februari 2020 kemarin dengan membahas Right Issue dengan alasan agar persentase saham tidak terdilusi ternyata tidak menjadi suatu solusi, toh pada akhirnya sekarang malah membahas soal merger dengan BJB”. katanya.

Sementara itu, Tiba yuda menjelaskan, sebelumnya Bank Banten sudah bermasalah, itu saat masih bernama Bank Pundi. Jadi dalam penyertaan modal pun terhadap Bank Banten berdasarkan Perda Provinsi Banten Nomor 5 Tahun 2013 juga harus memperhatikan tingkat resiko, agar Pemprov Banten tidak mengalami pemborosan anggaran. tandas Tiba.

“Perlu adanya audit dan harus diusut tuntas terkait kredit macet dan bermasalah kurang lebih Rp 188 Milyar tersebut serta Direksi dan Komisaris Utama Bank Banten sebagai para petinggi harus bertanggung jawab atas adanya kredit macet dan bermasalah tersebut. Agar Bank Banten yang tujuannya menyelenggarakan usaha untuk menyediakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan jasa yang bermutu tinggi dan terjangkau oleh
masyarakat, mendorong pertumbuhan perekonomian kerakyatan di daerah serta memupuk keuntungan yang wajar guna peningkatan nilai perusahaan dan peningkatan pendapatan asli daerah dapat berjalan dengan baik,” jelas Tiba.

Seperti diketahui, kini nasib Bank Banten hampir di ambang kehancuran. Bank yang dulunya sehat-sehat saja kini sedang mengalami sakit parah akibat pengucuran kredit tanpa agunan yang berujung masalah dan merugi. Siapa yang harus di salahkan dan bertanggung jawab ?.
Dulu Bank ini sebagai Badan Hukum Perusahaan Daerah Banten Global Development dan di ubah menjadi Perseroan Terbatas Banten Global Development dengan merujuk kepada Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 7 Tahun 2009. Perubahan nama tersebut untuk menyetarakan dalam meningkatkan bisnisnya agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah/PAD.

Merugi dan anjloknya pendapatan PT. Bank Banten Tbk dikarenakan banyaknya kredit macet dan bermasalah kurang lebih Rp 188 Milyar dari sekitar 31 perusahaan dan 10 Cabang Bank Banten Tbk. Saat ini PT. Bank Banten sedang dalam pengawasan intens oleh pihak OJK dan telah di laksanakan RUPSLB dengan pembahasan terkait Right Issue pada Februari 2020 kemarin. Beberapa dugaan kesalahan dan pelanggaran yang di lakukan oleh direksi dan Komisaris Utama PT. Bank Banten Tbk, katakan saja banyak kredit tanpa agunan yang dikucurkan kepada beberapa perusahaan yang di duga tidak jelas alias beresiko tinggi dan bermasalah. Hal ini tidak sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor : 5/10 /PBI/2003 Tentang Prinsip Kehati-hatian Dalam Kegiatan Penyertaan Modal tersebut, sehingga tidak ada jaminan pengembalian kredit itu secara aman dan pada akhirnya merugi. (SYA)

BAGIKAN

Komentar