Dies Natalis 71 HMI And Millenials Blue Print

236

Oleh : Andriyatno (Mantan Ketua Umum BPL HMI Jakarta Pusat-Utara 2014-2015)

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Sudah tujuh puluh satu tahun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri, mewarnai setiap dinamika yang ada didalam negeri tercinta ini, menembus luasnya samudera, dan mengarunginya luasnya lautan. Dari niat menuju harapan, dan berlabuh dalam rana pengabdian yang tak berujung oleh waktu serta tempat. Menapaki semak belukar, berlumpur, hingga terjatuh dalam kubangan yang sangat dalam, namun masih tetap setia mengawal negeri ini dengan khittah awal perjuangan yakni missi Ke-Indonesiaan dan Ke-Islaman.

HMI berdiri Pada tanggal 5 Februari 1947 di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta, atau yang sekarang telah berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Dari kedua missi itulah pada akhirnya yang melatar belakangi HMI berdiri, yakni dengan goal untuk 1). Mempertahankan kemerdekaan Indonesia serta mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia, dan 2). Mensyiarkan ajaran islam. Dari sosok Lafran Pane yang menggagas berdirinya organisasi Mahasiswa ini, pada akhirnya HMI mampu bereksistensi hingga sekarang ini.

Sosok Lafran Pane adalah sosok manusia yang sempurna (kamil), yang resah ketika melihat suatu bentuk-bentuk penjajahan yang ada di Indonesia pada saat itu. Ia merupakan sosok yang terus mencari jati dirinya untuk mewakafkan dirinya untuk Indonesia, melalui dirinyalah HMI digagas disebuah jam kosong ketika ia berkuliah saat itu di STI, dan akhirnya mengajak beberapa temannya untuk mendirikan organisasi Mahasiswa Islam, dan tercetuslah HMI pada saat itu.

Dalam benak Lafran Pane pada saat itu adalah bagaimana mendirikan suatu organisasi mahasiswa islam yang bisa berkontribusi bagi bangsa dan negara ini. Dengan melihat realitas-realitas yang sangat mengkhawatirkan bagi perjalanan bangsa ini yang terus dijajah walau sudah merdeka.

Dan semangat Ke-Indonesiaan inilah ia berangkat, dengan mengimbanginya dengan semangat Ke-Islaman yang merupakan pondasi didalam berjuang bagi himpunan ini. Bendict Anderson pernah berkata “Bahwa ikatan Ke-Indonesiaan lahir dan bersumber dari imajinasi. Yakni imajinasi untuk berjuang bersama, merasakan nasib yang sama, dan memiliki impian bersama”. Maka Indonesianis terkemuka ini menyebut Indonesia sebagai komunitas terbayang (imagined community), (Ruray : 2016).

Formula teoritis itu, menemukan daya praksis ditangan Lafran Pane, dan beliau pakai untuk mendirikan HMI, sebagai imajinasinya agar mahasiswa islam dapat berjuang untuk Indonesia. Dari jasa beliau, kini HMI mampu menjaga khittahnya yakni missi Ke-Indonesiaan dan Ke-Islaman, bukan sampai disitu saja, melainkan kini telah melebur dalam Ke-Moderatan, hingga pemersatu bangsa dan negara ini. Atas jasanyalah, pada akhirnya muncul aspirasi dari kader-kader HMI dan alumni HMI, agar beliau dijadikan Pahlawan Nasional, dan akhirnya aspirasi itu menjadi kenyataan beberapa waktu lalu, ketika Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo resmi menetapkan Lafran Pane sebagai Pahlawan Nasional.

Memaknai Missi Ke-Indonesiaan dan Ke-Islaman HMI

Dari dua missi inilah yang pada akhirnya melandaskan perjuangan HMI, dengan semangat Ke-Indonesiaan HMI mencoba membangun bangsa dan negara ini menuju pada kemajuan, dan dengan missi Ke-Islaman, HMI mencoba untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat Islam Indonesia yang beragam, dengan mengajak mereka semua bersatu dalam naungan Al-Qur’an dan Hadist.

Missi Ke-Indonesiaan merupakan missi fisik (eksoteris), dan missi Ke-Islaman adalah missi batin (esoteris). Keduanya merupakan satuan yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, dengan keduanya diterapkan didalam HMI, maka akan menghasilkan spirit perjuangan HMI untuk mensejahterakan masyarakat yang berdasarkan pada keadilan dan kemakmuran.

Melalui missi fisik (eksoteris), inilah yang menandai dibukanya gerbang perjuangan HMI, hingga dalam tinta emas sejarah HMI, HMI turut memainkan peran dan kartunya disegala macam rezim pemerintahan. Ketika orde lama, mempertahankan kemerdekaan Indonesia, melawan komunisme, hingga menumbangkan rezim orde lama. Pada orde baru HMI berada didalamnya, dengan membantu pembangunan nasional, namun ikut turut serta dalam penumbangan rezim orde baru yang semakin otoriter, dan peristiwa itu dikenal sebagai “reformasi 1998”. Dan justru pasca reformasi spirit perjuangan HMI menurun dan mengalami kemunduran. Salah satu penyebabnya adalah, rusaknya akhlak dan moral para kader HMI, berbasisnya HMI pada pragmatisme kekuasaan, hingga HMI yang tidak bisa merespon perubahan zaman.

Sedangkan dalam missi batin (Ke-Islaman), HMI dalam perkembangannya saat itu, berupaya untuk menghilangkam praktek-praktek sinkretisme, animisme, dinamisme, yang umat islam Indonesia lakukan pada saat itu, dengan menawarkan dan mensyiarkan ajaran islam melalui HMI, agar umat Islam Indonesia pada saat itu memegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist. Dan dalam missi inilah HMI berupaya mensyiarkan ajaran islam, dengan dibuktikan Islam sebagai azas dalam himpunan ini.

Missi batin (Ke-Islaman) ini juga sebagai antitesa dari perkembangan ideologi marxis-komunis pada saat itu yang sedang maraknya di nusantara ini, sehingga membawa Islam sebagai ideologi pada himpunan ini, dengan mengimbangi dominasi marxis-komunis yang banyak disosialisasikan oleh organisasi kepemudaan saat itu. Dan dari missi batin (Ke-Islaman) inilah, HMI mengajak umat Islam Indonesia agar tidak menuhankan segala sesuatu yang bersifat materialistik, melainkan semata-mata Tuhan sebagai tujuannya.

Jadi, bukan hanya missi fisik saja (Ke-Indonesiaan) yang HMI lakukan, melainkan juga menuju missi batin (Ke-Islaman), yang mengajak para anggota, kader, alumni, hingga masyarakat Indonesia, untuk membangun Indonesia bukan hanya berlandaskan pada material semata, namun berbasis pada nilai-nilai keluhuran, kesopanan, kasih sayang, dan rahmat yang berada didalam missi batin tersebut (Ke-Islaman). Dan pada akhirnya missi batin (Ke-Islaman) ini menjadi sebuah senjata ketika diimplementasikan secara nyata melalui ideologi perjuangan HMI, yakni Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP), yang dihasilkan oleh Nurcholis Madjid (Cak Nur), dan NDP ini pada akhirnya dijadikan sebagai ideologi perjuangan HMI yang berbasis islam untuk mensejahterakan masyarakat yang berkeadilan.

Millenials Blue Print

Perubahan zaman terus silih berganti, dan mapannya modernisasi dan globalisasi, melahirkan “millenialisasi”. Millenials merupakan sebuah pertanda adanya perubahan zaman. Perubahan-perubahan zaman itu merupakan suatu keharusan bagi berkembangnya dunia ke dalam dimensi yang lebih modern. Dan untuk manusia dimuka bumi, tidak mungkin menghindarinya, namun harus menyambutnya dengan persiapan yang sangat matang.

Jika dikaitkan dengan HMI saat ini, berbagai macam dimensi telah dihadapkan HMI, mulai dimensi pertarungan ideologi, fisik bersenjata, sampai politik kekuasaan negara ini, semua sudah dilalui. Dan kini saatnya HMI masuk dimensi yang berbeda, dimensi dimana usia-usia produktif para kader-kader HMI harus dioptimalkan secara maksimal, dimensi dimana teknologi, digitalisasi, informasi, dan komunikasi harus dikuasai, ya dimensi ini adalah dimensi “millenials“.

Dimana dimensi atau era ini banyak manusia yang mengalami frustasi sosial (social frustration) bahkan depresi sosial (social depression). Maka tidak jarang banyak manusia yang bunuh diri, membunuh anaknya dan lain sebagainya. Ini disebabkan karena masyarakat sedang dilanda kesepian di tengah keramaian (lonely in the crowd), mereka hidup dibawah tekanan keadaan (social pressure), dunia yang kita huni saat ini telah berjungkil balik (Sardini : 2016).

Arus globalisasi pada akhirnya menghasilkan sisi negatif yakni “deflasi” (menurunnya kegiatan ekonomi, produksi yang disertai meningkatnya pengangguran) yang melanda seluruh dunia, termasuk dinegara-negara berkembang. Kombinasi dari kelebihan produk (overcapacity) dibanyak industri, dan naik kelasnya negara berbiaya rendah seperti China, telah memberikan tekanan pada harga-harga. Harga rendah adalah suatu plus, sedangkan harga jatuh merupakan petaka. Bahaya deflasi tersebut memaksa kalangan bisnis untuk memotong biaya, bagian dari upaya pemotongan biaya ini menyangkut pekerjaan “outsourching” kenegara-negara berkembang, dan itu akan melahirkan situasi pengangguran dan kemiskinan (Damanhuri : 2016).

Dan akibat globalisasi, melahirkan efek yang ditandai oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi (information and communication technology) yang pada akhirnya mempengaruhi relasionalitas sosial, dan inilah yang dinamakan “era millenials“. Lalu dengan era ini, teknologi lebih diutamakan ketimbang sebuah persahabatan dan kehidupan nyata. Maka tidak jarang, banyak orang yang hidupnya tidak bisa terlepas dari smartphone, dan terus memainkan smartphone, dengan fungsi untuk menghubungkan yang jauh melalui beragam aplikasi. Namun teman, keluarga, yang dekat diacuhkan dan didiamkan, karena sedang asyik bermain smartphone tersebut.

Selain itu dalam era millenials saat ini, pertarungan justru berada dalam perang persepsi (proxy war and asymetric war) dalam media massa lebih khusus media online, yakni akibat adanya liberalisasi besar-besaran dalam sektor informasi dan digital, sehingga pertarungan ideologi, politik, hukum dan lain sebagainya telah berubah didalam dunia maya. Untuk itu diperlukannya jawaban atas perkembangan ini, dan salah satu untuk menjawabnya adalah generasi muda yang hidup dalam jangka kisaran waktu 1980-2000-an harus dioptimalkan untuk mempersiapkan era millenials ini.

Berdasarkan dari data BPS tahun 2013, jumlah pemuda di Indonesia berjumlah 62,6 juta orang, artinya setengah penghuni negara ini adalah pemuda. Dan pada tahun 2020 hingga 2030 diperkiraan jumlahnya mencapai 70% dari penduduk usia produktif.

Selain itu dalam era kita dihadapkan dengan adanya persaingan pasar bebas (market liberalization), dimana satu negara tidak dapat menutup diri dari aktivitas liberalisasi pasar. Sebagaimana oleh WTO (World Trade Organization), hal ini antara lain ditandai dengan adanya kompetisi ekonomi yang kian tajam, seiring dengan implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Itu merupakan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh berbagai negara dalam era saat ini, lebih khusus bagi para pemuda. Untuk itu, HMI sebagai organisasi mahasiswa yang menaungi para pemuda-pemudi Indonesia, harus respon dalam tantangan zaman ini. Responnya HMI dalam era millenials ini merupakan sebuah peluang HMI dimasa yang akan datang. Jika HMI tidak meresponnya dengan serius, maka keberlangsungan HMI dimasa yang akan datang dapat terganggu.

Dan missi Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan harus bisa menyusaikan zaman, kini bukan satnya lagi bagi HMI bertarung fisik dan ideologi, apalagi bertarung dalam rana internal HMI sampai berkepanjangan, pertarungan itu harus diupayakan keluar, menyambut era millenials ini dengan visi masa depan (blue print) HMI dalam menatap perubahan zaman ini.

Visi masa depan (blue print) itu diharapkan mampu menciptakan kader yang memilki kualitas 3C, yakni 1). Creative, yakni berfikir secara out of the box, kaya akan ide dan gagasan, 2). Confidence, yakni dengan sangat percaya diri, dan berani mengungkapkan pendapatnya tanpa ragu-ragu, dan 3.) Connected, yakni pandai bersosialisasi dihimpunan terutama berkoneksi dengan masyarakat, dan melek akan teknologi.

Dan missi kedepan HMI adalah dengan 1). Penguatan NDP sebagai ideologi perjuangan, 2). Revitalisasi perkaderan yang berbasis teknologi dan digital, 3). Penumbuhan jiwa wirausaha (enterpreneur) bagi kader-kader HMI, 4). Pemberdayaan LPP sebagai lokomotif perjuangan HMI, 5). Pengabdian masyarakat secara real.

Itu semua dapat dilaksanakam ketika seluruh komponen yang berada di HMI bersatu dan bersama-sama membangun, tanpa adanya saling curiga dan menjatuhkan, agar HMI mampu menjawab segala macam tantangan zaman.

Dan harapan dihari miladnya yang ketujuh puluh satu tahun ini, dengan kongres ke-XXX di Ambon, yang akan dilangsungkan beberapa minggu lagi, diharapkan ada ikhtiar dan kerja bersama untuk membangun HMI, agar tidak adanya lagi permusuhan, konflik, dan juga kemunduran yang dialami himpunan ini. (TYL)

BAGIKAN

Komentar