Dalam Bingkai Muslim Reaksioner

300
Image-Ilustrasi

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Muslim reaksioner, mungkin itulah yang pertama terlintas dalam otak sekarang ini melihat kondisi kekinian yang semakin kacau, saling lapor dan saling tuding diantara anak bangsa, hukum bagai sebuah mainan yang bisa digiring kesana-kemari. Sebagian umat muslim begitu sensitif dan reaksioner dalam menanggapi kasus penistaan agama, mungkin sebagian akan melihat ini adalah sebuah bentuk kepentingan politik menjelang Pilgub Jakarta tahun ini.

Sebagian lain berpendapat ini hal sangat genting karena menyangkut keyakinan yang dianggap telah dinistakan, dua kubu ini yang sering kali bertarung beradu argumen, apalagi dizaman di mana Media Sosia melebihi kehidupan dunia nyata yang semakin terpasung, para penghuni dunia maya pun bertarung layaknya gladiator di Colloseum.

Mereka tak segan mencaci maki siapa yang tak sependapat dengannya, hal ini terlihat sangat miris ketika akun-akun yang berkonten Islam melontarkan kata-kata Sarkas yang begitu menyedihkan walaupun yang diserang mereka tak lain adalah saudara muslim yang berbeda pendapat dengannya.

Meraka begitu reaksioner ketika ada orang yang mencoba mengkritik Imam Besar FPI Habib Rieziq, entah ini sebuah pengkultusan baru atau memang Sang Imam merupakan simbol Islam kekinian, namun ada beberapa hal mungkin yang perlu dipertimbangkan terkait begitu “superior” sang Habib sehingga ulama yang berbeda pendapat pun dianggap sesat dan salah di mata meraka

Lihat saja ketika Buya Syafi’i Ma’arif melontarkan argumen yang berbeda dan dianggap memihak Ahok, sang ulama pun tak luput dari caci maki muslim reaksioner, padahal secara keilmuan Buya Syafi’i dengan Habib Rizieq jelas jauh berbeda, Buya mempunyai andil besar sebagai cendikiawan muslin Indonesia.

Yang terbaru adalah reaksi mereka terhadap salah satu artis yaitu Prisa Nasution yang membuat sebuah tweet yang dianggap melecehkan Islam, padahal isi konten tersebut menyinggung masalah pan Arabisme yang semakin akut di negara ini. Bagaimana tidak Arab Saudi seperti menjadi patron kebenaran Islam. Apapun yang datang dari Saudi itulah Islam.

Padahal Arab Saudi dengan Jazirah Arab masa Nabi Muhammad sangat berbeda, salah satu kehebatan negara Saudi adalah meyakinkan Muslim, seakan-akan negaranya merupakan cerminan dari negara Islam yang menerapkan al-Quran dan Sunnah. Keluarga Kerajaan juga menampilkan diri mereka sebagai pelayan umat hanya karena di negeri mereka ada Makkah dan Madinah yang banyak dikunjungi oleh kaum Muslim dari penjuru dunia.

Saudi juga terkesan banyak memberikan bantuan kepada kelompok Islam maupun negeri-negeri Islam untuk mencitrakan mereka sebagai pelayan umat dan penjaga dua masjid suci (Khadim al-Haramain)

Orang-orang awam selama ini menjadi korban dari berita-berita penipuan yang sengaja disebarkan oleh para pemuja Kerajaan Arab Saudi. Kaum Muslimin lupa, bahwa yang menjadi penguasa Makkah dan Madinah saat ini adalah Keluarga Kerajaan (Aly Saud) yang mengusung paham Khawarij dan Mujasim, bukan Ahlussunnah.

Kerajaan ini merupakan dibentuk atas kerjasama dengan Inggris setelah kekalahan raja Saud terhadap Turki Otoman, serta rasisme orang Arab terhadap bangsa Kurdi pun sangat nyata. Kaum Kurdi yang dianggap bukan bagian dari suku Arab pun disingkirkan, padahal kaum Kurdi ini beragama Islam, ini konsep pan Arabisme (Nasionalisme Arab) yang digaungkan Arab Saudi, nasionalisme ini tak memandang agama melaikan hanya memandang suku ini diwujudkan dengan adanya Liga Arab yang diprakarsai saudi sendiri.

Inilah yang dianut oleh sebagian muslim di Indonesia, maka tak heran memang mereka mudah menghujat orang berbeda golongan dengan kata-kata yang tak layak dikatakan seorang muslim yang taat. permainan psikologis yang kini dimainkan, sensitivitas agama seakan menjadi kemoditas utama dalam unjuk kebolehan terhadap mereka yang awam berlagak lebih tahu bahkan melebihi Tuhannya.

Lalu apakah muslim kita menjadi muslim yang berkiblat pada Pan Arabisme atau akan kembali berkiblat pada keharusannya (Mekah). Pada dasar Islam itu flexibel mampu bercampur dengan budaya manapun (akulturasi), muslim kini seperti sedang digiring kepada satu pemahaman saja dan tak boleh adanya pemahaman yang lain.

Penulis: Erman Adia Kusumah, Direktur Bidang Politik dan HAM, Lembaga Kajian Rakyat.

Editor: Yadi Januardi

 

 

BAGIKAN

Komentar