Bahayakah Bila Utang RI Rp 3.400 T Jika Ditambah Lagi?

4185
Suahasil Nazara

JAKARTA, FOKUSUTAMA.COM – Utang pemerintah pusat hingga akhir Oktober 2016 sudah mencapai Rp 3.439,78 triliun. Tahun depan utang masih akan ditambah untuk mencukupi kebutuhan belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kementerian Keuangan Suahasil Nazara menuturkan indikator bahaya atau tidaknya utang dalam suatu negara dilihat dari rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sekarang masih di level 28% yang artinya dikategorikan aman.

“Kita jaga ini utangnya jangan sampai dia meningkatkan rasio utang terhadap PDB terlalu berlebihan, tahun depan kita jaga kisaran 28%, seperti tahun ini. Jadi nggak ada peningkatan rasionya,” ungkap Suahasil di sela-sela seminar. Bertajuk Unlocking Public and Private Investment in Indonesia: Role of Financial Sector di Hotel Hilton, Bali, Jumat (9/12/2016).

“Suahasil Nazara: indikator bahaya atau tidaknya utang dalam suatu negara dilihat dari rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sekarang masih di level 28% yang artinya dikategorikan aman”

Penarikan utang disesuaikan dengan kondisi perekonomian. Meski ada penambahan utang, akan ekonomi tetap tumbuh. Sehingga rasionya masih terjaga pada level yang cukup baik.

“Nilai utang kan naik, tapi PDB kita kan meningkat, jadi rasio ini yang nggak boleh meningkat, tetap di angka kisaran 27-28%,” paparnya.

Pada sisi lain, pemerintah juga menjaga agar defisit pada APBN 2017 di bawah 3%. Ini menandakan kontrol penuh pemerintah dalam mengendalikan utang. Defisit tahun depan diasumsikan 2,41% atau setara dengan Rp 330,2 triliun. Untuk membiayai defisit maka akan diterbitkan Surat Berharga Negara (SBN) netto Rp 399,9 triliun.

“APBN-nya kita jaga, ada penerimaan dan pengeluaran dan nggak boleh defisit lebih dari 3%,” tegasnya. (NC)

BAGIKAN

Komentar